Istilah kesejahteraan subjektif (subjective well being) merupakan istilah yang kurang populer, khususnya jika dibandingkan dengan kesejahteraan psikologis (psychological well being) yang dikemukakan oleh Carol D. Ryff pada tahun 1989. Padahal untuk dapat memahami konsep kesejahteraan psikologis, akan jauh lebih baik bila memahami subjective well-being terlebih dahulu. Ryff sendiri membangun konsep kesejahteraan psikologis dengan menganalisis teori-teori kesehatan mental yang pernah ada sebelumnya, termasuk subjective well-being (subjective well-being).

 Pengertian Subjective Well-being

                Menurut Ed Diener, Eunkook Suh, dan Shigehiro Oishi (1997), subjective well-being mengacu pada bagaimana orang mengevaluasi hidup mereka. Di dalamnya meliputi variabel-variabel seperti kepuasan dalam hidup dan kepuasan pernikahan, tidak adanya depresi dan kecemasan, serta adanya suasana hati (mood) dan emosi yang positif. Lebih lanjut disimpulkan oleh William C. Compton (2005), bahwa secara garis besar, indeks subjective well-being seseorang dilihat dari skor dua variabel utama, yaitu kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup.

                Untuk dapat mengetahui seseorang bahagia atau tidak, orang tersebut akan diminta untuk menjelaskan tentang keadaan emosinya dan bagaimana perasaannya tentang dunia sekitar dan dirinya sendiri. Jadi tampak bahwa ada aspek afektif yang terlibat saat seseorang mengevaluasi kebahagiaannya. Sedangkan dalam menilai kepuasan hidup lebih melibatkan aspek kognitif karena terdapat penilaian yang dilakukan secara sadar.

                Orang yang indeks subjective well-being-nya tinggi adalah orang yang puas dengan hidupnya dan sering merasa bahagia, serta jarang merasakan emosi yang tidak menyenangkan seperti sedih atau marah. Sebaliknya, orang yang indeks subjective well-being-nya rendah adalah orang yang kurang puas dengan hidupnya, jarang merasa bahagia, dan lebih sering merasakan emosi yang tidak menyenangkan, seperti marah atau cemas.

                Meskipun dinilai dari kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup, tetapi subjective well-being bukanlah istilah yang sinonim dengan kesehatan mental atau kesehatan psikologis. Misalnya pada orang yang mengalami delusi, meskipun tidak dapat memahami kenyataan seperti apa adanya tetapi ia dapat merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya.  

Tiga Komponen

 

                Terdapat tiga komponen utama dari subjective well-being, yaitu kepuasan, afek menyenangkan, dan afek tidak menyenangkan dalam level yang rendah (Diener, et al, 1997). Setiap komponen terbagi lagi menjadi beberapa subkomponen. Kepuasan umum dapat terbagi menjadi kepuasan dalam berbagai bidang dalam hidup, seperti rekreasi, cinta, pernikahan, persahabatan, dan lain sebagainya. Afek menyenangkan dapat dibagi menjadi emosi khusus, seperti kebahagiaan, afeksi, dan harga diri. Afek yang tidak menyenangkan dapat dipisahkan menjadi emosi dan mood khusus, seperti malu, marah, sedih, rasa bersalah, dan cemas.

Masing-masing subkomponen ini juga masih terbagi lagi ke dalam beberapa bagian. Akhirnya, subjective well-being dapat dilihat dari level yang paling umum atau dari level yang paling sempit, tergantung pada tujuan penilaian. Misalnya, penilaian dapat melihat kepuasan dalam hidup secara menyeluruh atau sekedar melihat kepuasan dalam perkawinan.

Bottom Up dan Top Down Theory

                   Diener (dikutip oleh Compton, 2005) mengemukakan bahwa kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan dapat dijelaskan dengan menggunakan dua pendekatan umum, yaitu bottom up theory dan top down theory. Dalam bottom up theory, kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan seseorang akan tergantung pada banyaknya jumlah kepuasan kecil dan kebahagiaan sesaat yang dialaminya. Dengan kata lain, subjective well-being dilihat sebagai penjumlahan pengalaman positif dalam kehidupan seseorang. Semakin sering seseorang mengalami peristiwa yang menyenangkan, maka ia akan semakin bahagia.

                Perspektif lain memandang subjective well-being lebih berkaitan dengan kecenderungan seseorang mengevaluasi dan menginterpretasikan pengalamannya secara positif. Menilik dari perspektif ini, seseorang dapat memiliki subjective well-being karena melihat situasi yang dihadapinya dalam hidup secara positif. Pendekatan yang menjelaskan subjective well-being ini disebut sebagai top down theory. Dalam pendekatan ini, pengukuran subjective well-being lebih dikaitkan dengan sifat kepribadian, sikap, dan cara seseorang menginterpretasi pengalaman dalam hidup.

                Apabila melihat dari perspektif bottom up, usaha untuk meningkatkan subjective well-being seharusnya berfokus untuk mengubah lingkungan dan situasi yang dialami seseorang. Misalnya dengan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, hidup di lingkungan yang lebih aman, dan lain sebagainya. Sedangkan apabila melihat dari perspektif top down, usaha untuk meningkatkan kebahagiaan seharusnya berfokus pada bagaimana mengubah perspektif seseorang, keyakinan mereka, atau sifat kepribadiannya.

 Memprediksikan Subjective Well-being

                Subjective well-being dapat diprediksikan dengan melihat beberapa variabel yang berkaitan dengan kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan. Variabel-variabel tersebut adalah self esteem yang positif, memiliki kontrol pribadi (personal control), derajat ekstroversi, optimisme, hubungan sosial yang positif, serta makna dan tujuan dalam hidup (Diener et al, dikutip oleh Compton, 2005).

                Self esteem yang positif merupakan variabel yang terpenting dalam subjective well-being karena evaluasi terhadap diri akan mempengaruhi bagaimana seseorang menilai kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Seseorang yang memiliki self esteem rendah cenderung tidak akan merasa puas dengan hidupnya dan tidak akan merasa bahagia. Self esteem yang positif berasosiasi dengan fungsi adaptif dalam setiap aspek kehidupan.

                Memiliki kontrol pribadi mengacu pada keyakinan seseorang bahwa ia memiliki kontrol terhadap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam hidupnya. Ditambahkan oleh Peterson (dikutip dari Compton, 2005), kontrol pribadi merupakan keyakinan individu bahwa ia dapat memaksimalkan hasil yang bagus dan atau meminimalkan hasil yang jelek. Dengan keyakinan ini maka seseorang dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, memilih hasil yang diinginkan, menghadapi konsekuensi dari pilihannya, dan memahami serta menginterpretasikan hasil dari pilihannya. Jadi kontrol pribadi dapat membantu seseorang untuk mewujudkan apa yang diinginkannya, yang kemudian dapat membawa kepuasan akan hidupnya.

                Orang yang memiliki derajat ekstroversi tinggi adalah orang yang tertarik dengan hal-hal di luar dirinya, seperti lingkungan fisik dan sosial. Seseorang yang extrovert diprediksikan akan mempunyai subjective well-being, karena ia lebih mampu bersosialisasi dibanding orang yang introvert. Penelitian menunjukkan banyaknya sahabat yang dimiliki akan berkaitan dengan well being. Hal ini terjadi karena dengan semakin banyaknya relasi yang dimiliki, maka semakin besar kesempatannya untuk menjalin relasi yang positif dengan orang lain dan semakin besar kesempatannya untuk mendapatkan umpan balik yang positif dari orang lain.

                Secara umum, orang yang lebih optimis tentang masa depannya akan lebih bahagia dan lebih puas dengan hidupnya. Konsep optimistik sendiri dapat dilihat dengan beberapa cara. Pertama, dispositional optimism, yaitu keyakinan bahwa semua akan berjalan baik di masa yang akan datang. Kedua, harapan (hope), yaitu keyakinan bahwa tindakan seseorang dan ketekunannya akan memungkinkan tercapainya tujuan yang diinginkan. Ketiga, explanatory style, yaitu cara seseorang menjelaskan penyebab kejadian-kejadian untuk dirinya sendiri. Orang optimis akan menjelaskan peristiwa kegagalan sebagai sesuatu yang bersifat sementara, dan peristiwa keberhasilan sebagai hasil dari kemampuannya sendiri.

Hubungan yang positif dengan orang lain berkaitan dengan subjective well-being, karena dengan adanya hubungan positif tersebut akan mendapat dukungan sosial dan kedekatan emosional. Pada dasarnya kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain merupakan suatu kebutuhan bawaan.

Tanpa adanya dukungan sosial dan keintiman emosional dengan orang lain, manusia akan merasakan keterasingan yang berdampak pada kesepian dan depresi. Hubungan yang positif dengan orang lain juga akan meningkatkan dampak variabel-variabel lain terhadap subjective well-being.

                Memiliki makna dan tujuan dalam hidup merupakan prediksi penting dari subjective well-being. Dalam penelitian subjective well-being, variabel ini sering diukur sebagai religiusitas. Religiusitas akan berpengaruh terhadap subjective well-being karena memberikan makna dan arah dalam kehidupan seseorang. Dengan adanya makna dan arah dalam hidup akan menimbulkan kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan.

Apabila memerlukan daftar pustaka dapat mengirimkan email ke vishakadharma@yahoo.com

About these ads