Bahagia merupakan kata yang sering kita dengar atau ucapkan. Ketika menghadiri resepsi pernikahan, para tamu undangan akan memberikan ucapan selamat dan mendoakan agar pasangan pengantin tersebut berbahagia. Ucapan serupa juga akan diberikan pada teman atau kerabat yang sedang menyambut kelahiran anaknya. Banyak moment atau peristiwa penting dalam kehidupan manusia yang lazim diiringi dengan harapan atau doa akan datangnya kebahagiaan.

Saat sedang menikah atau menyambut kelahiran anak, kita akan melihat adanya raut wajah yang berseri-seri dan senyum tiada henti pada pasangan pengantin dan pada pasangan orang tua baru. Namun, belum tentu pancaran kebahagiaan tersebut akan kita lihat lagi di masa-masa yang akan datang. Banyak permasalahan hidup yang menghampiri, seperti perselingkuhan, kesulitan ekonomi, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Ketika hal tersebut terjadi kita akan melihat raut wajah yang muram dan berkerut-kerut. Mereka akan menghabiskan waktunya dengan termenung sambil bertopang dagu atau justru menangis tersedu-sedu.

Hidup memang sering diibaratkan seperti roda yang berputar. Kadang kita berada di atas, tetapi kadang kita juga berada di bawah. Apabila melihat filosofi tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita hanya fana atau bersifat sementara. Begitu juga dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang dirasakan hanya bersifat sementara dan tidak lah abadi. Jika hari ini kita merasa bahagia, maka belum tentu esok hari kita akan tetap merasakan hal yang sama.

 Kebahagiaan sendiri merupakan tujuan hidup dari setiap manusia. Menyadari kebahagiaan hanya bersifat sementara dan tidak abadi, maka mereka berlomba-lomba untuk meraih kebahagiaan tersebut. Cara yang digunakan untuk meraih kebahagiaan akan tergantung pada pemaknaan mereka terhadap kebahagiaan itu sendiri. Seringkali orang memaknai kebahagiaan dengan dimilikinya harta yang banyak, kekuasaan yang luas, atau status yang tinggi. Mempunyai harta yang banyak akan membuat hidup berkecukupan, sehingga tidak ada lagi yang perlu dipusingkan. Mempunyai kekuasaan yang luas akan membuat mereka dapat mengendalikan atau mengatur orang lain, sehingga segala keinginannya dapat terpenuhi. Begitu juga ketika mereka mempunyai status yang tinggi. Mereka akan disegani, sehingga akan terus dihormati.

 Kenyataannya, meskipun harta, kekuasaan atau status sudah dimiliki tetapi belum tentu mereka akan terus merasa bahagia. Sebaliknya, banyak orang yang tidak memiliki harta, kekuasaan, atau status tetapi mereka tetap dapat merasa bahagia. Oleh karena itu pada akhirnya orang akan mempertanyakan apakah arti kebahagiaan yang sebenarnya. Bahagia sendiri merupakan bagian dari emosi yang dimiliki oleh setiap manusia. Kebahagiaan adalah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Jadi kebahagiaan berbeda dengan kegembiraan, dan kebahagiaan merupakan suatu perasaan yang melebihi perasaan kegembiraan. Kebahagiaan mempunyai ruang lingkup yang lebih luas, seperti kesenangan hidup, sedangkan kegembiraan mempunyai ruang lingkup yang lebih sempit, seperti kejadian atau pencapaian khusus.

 Ketika melihat orang lain bahagia, seringkali akan timbul rasa iri dalam diri kita. Kemudian kita akan mencoba mencari tahu kunci kebahagiaan dari orang tersebut agar dapat menerapkannya juga. Jika beruntung terkadang kita berhasil mencontohnya, tetapi tak jarang juga kita gagal melakukannya. Apabila ditinjau lebih jauh, sebagai sebuah perasaan kebahagiaan merupakan suatu hal yang bersifat subyektif. Kebahagiaan bukan lah sesuatu hal yang mudah ditularkan kepada orang lain.

 Sebenarnya ketika kita menyangka orang lain bahagia, belum tentu orang tersebut benar-benar merasa bahagia. Sebaliknya, ketika kita menyangka orang lain tidak bahagia belum tentu orang tersebut tidak merasa bahagia. Sulit untuk menilai atau mengukur kebahagiaan, karena tidak ada patokan yang pasti. Oleh karena itu tidak mudah pula menilai kebahagiaan orang lain hanya dari luar atau yang tampak. Hanya orang itu sendiri lah yang dapat mengetahui secara persis apakah ia merasa bahagia atau tidak.

 Selain mempertanyakan arti kebahagiaan, orang juga sering mempertanyakan kapankah ia akan bahagia. Seringkali orang mengkaitkan kebahagiaan dengan kejadian atau peristiwa yang datang dari luar dirinya. Misalnya saja orang yang menganggap bahwa dirinya  akan bahagia ketika ada orang yang selalu mencintainya. Kebahagiaan disini dilihat sebagai bagian dari nasib yang ada di luar kontrol manusia. Jika beruntung, maka akan selalu ada yang mencintainya sehingga ia akan terus merasa bahagia.

 Apabila kebahagiaan dianggap berada di luar kontrol manusia, maka sulit untuk memprediksikan kapan datangnya kebahagiaan tersebut. Kebahagiaan akan datang kapan saja di saat yang tak terduga. Kebahagiaan juga dapat pergi kapan saja. Tidak seorang pun yang dapat memprediksikan sampai kapan kebahagiaan yang dirasakan akan berlangsung. Jika terjadi musibah dalam hidup, seperti kehilangan orang yang dicintai secara mendadak, mengalami cacat tubuh karena kecelakaan, kehilangan pekerjaan, dan lain sebagainya, maka otomatis orang tidak akan lagi merasa bahagia. Pada situasi ini akhirnya ia hanya bisa pasrah pada nasib. Maka tidak salah apabila akhirnya banyak orang menganggap kebahagiaan sebagai sesuatu yang fana.

 Namun, apakah benar bahwa kebahagiaan itu tidak abadi ?. Sebagai sesuatu yang subyektif sebenarnya kebahagiaan dapat terus dirasakan oleh setiap orang. Permasalahannya terletak pada bagaimana kita memaknai setiap peristiwa atau kejadian dalam hidup kita. Dengan memberi makna berarti kita memberi arti pada setiap peristiwa atau kejadian dalam hidup kita, sehingga semuanya tidak lewat atau berlalu begitu saja. Agar dapat merasakan suatu kebahagiaan, tentu pemaknaan yang harus kita berikan adalah pemaknaan yang positif.

Victor Frankl (1905 – 1997) merupakan salah seorang tokoh psikologi yang menjelaskan pentingnya manusia mencari makna hidupnya. Disini manusia diharapkan dapat bersikap aktif. Ia tidak hanya pasrah menunggu perasaannya dipengaruhi oleh peristiwa atau kejadian yang dialaminya. Ia mempunyai kehendak atau kebebasan untuk menemukan makna hidupnya sendiri. Apa pun situasi dalam hidup kita, semuanya bermakna. Bahkan ketika manusia mengalami suatu peristiwa yang tidak menyenangkan, ia tetap dapat mencari makna hidupnya. Menurut Frankl, penderitaan dapat mendorong manusia untuk bertumbuh.

Selama ini umumnya ketika mengalami suatu penderitaan, orang akan terpuruk. Mereka menjadi tidak berdaya dan putus asa, sehingga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Padahal meskipun dalam keadaan yang menekan dan tidak dapat dikontrol, manusia tetap dapat mengontrol dirinya. Ia dapat menentukan sikap atas keadaan yang dialaminya. Di dalam film Life is Beautiful atau Persuit of Happiness dapat dilihat bagaimana orang yang mengalami penderitaan memberikan makna yang menyenangkan pada situasi yang dialaminya. Hal ini tentu akan membantu melewati masa-masa yang sulit.

Selain itu, orang juga perlu untuk mencari kebermaknaan dirinya di tengah-tengah situasi yang menekan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Seringkali penderitaan membuat orang menempatkan dirinya sebagai orang yang paling malang dan memerlukan pertolongan. Jika seseorang menempatkan diri dalam posisi tersebut maka niscaya ia akan sulit beranjak meninggalkan keterpurukannya tersebut. Bahkan bisa jadi semakin lama ia akan semakin merasa menderita. Jika hal itu terjadi maka ia tidak akan mampu lagi melihat celah kehidupan yang lebih baik, sehingga jalan pintas seperti bunuh diri pun dapat diambil.

Membantu orang lain membuat diri kita merasa berharga. Terlebih lagi ketika dilakukan pada saat kita sendiri berada dalam situasi menekan. Hal ini tentu akan membuat kita menemukan kepuasan dalam hidup. Secara tidak langsung tentu akan menumbuhkan semangat bagi kita untuk melewati masa-masa sulit, serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Dengan menemukan makna hidup kita telah menemukan kebahagiaan di tengah penderitaan. Sehingga dapat dikatakan apa pun situasi atau keadaan yang kita alami, kita tetap dapat terus merasa bahagia. Semua itu kembali kepada diri kita sendiri, apakah kita mau menemukan makna hidup kita dan menjadi bahagia atau kah tidak. Pada dasarnya kita sendiri lah yang berperan menentukan keberlangsungan hidup kita di masa yang akan datang, sehingga tidak perlu lagi kita termenung dan mempertanyakan akankan ada kebahagiaan untuk selamanya ?.