When I was young, I never needed anyone, And making love was just for fun, Those days are gone, Livin’ alone, I think of all the friends I’ve known, When I dial the telephone, Nobody’s home. All by myself, Don’t wanna be, All by myself, Anymore. Hard to be sure, Sometimes I feel so insecure, And loves so distant and obscure, Remains the cure……….” Sepenggal lirik lagu yang menggambarkan kisah seorang pria bernama Bambang (bukan nama sebenarnya).

Bambang berusia 50  tahun. Ia dapat digolongkan sebagai orang yang sukses. Ia berhasil dalam pekerjaannya, dengan karier yang terus menanjak. Penghasilan yang diperolehnya pun lebih dari cukup. Namun, kesuksesannya tersebut tidak diiringi dengan kesuksesan dalam kehidupan pribadinya. Bambang sering merasa kesepian. Di usianya sekarang, ia masih hidup melajang. Ia sangat iri melihat teman-teman sebayanya yang telah menikah dan mempunyai anak.

Secara fisik, tidak ada satu pun kekurangan dalam diri Bambang. Ia memiliki wajah yang tampan dan penampilan yang menawan. Maka tidak ada alasan baginya untuk tidak disukai lawan jenis. Ketika masih muda, ia mempunyai banyak teman dekat perempuan. Ia pandai membuat perempuan jatuh hati padanya. Jika Bambang ingin mempunyai kekasih, boleh dikatakan ia hanya tinggal memilih. Sayangnya hal tersebut tidak pernah dilakukannya.

Bambang tidak pernah mempunyai keinginan untuk menjalin komitmen. Hubungannya dengan perempuan-perempuan tersebut hanya dibiarkan mengambang, tanpa adanya kejelasan status. Bambang sangat menikmati kehidupannya tersebut. Ia bebas berkencan dengan siapa saja. Jika sedang mempunyai masalah dengan salah seorang teman dekat perempuannya, maka ia dapat beralih ke yang lainnya. Namun, hal tersebut tidak dapat terus-menerus dinikmatinya. Hubungan yang tidak jelas dan hanya menguntungkan bagi Bambang tersebut, membuat satu per satu teman perempuannya meninggalkannya. Kini tidak ada seorang pun ada di sampingnya.

Kasus Bambang merupakan gambaran satu dari sekian banyak laki-laki. Apa yang dialami oleh Bambang dapat dijelaskan menggunakan teori kepribadian yang dikemukakan oleh Alfred Adler. Menurut Adler, manusia dimotivasi oleh satu dorongan utama, yaitu dorongan untuk menanggulangi perasaan inferiority menjadi superiority. Inferiority merupakan perasaan tidak berdaya dan tidak mampu untuk melakukan “tugas” yang perlu diselesaikan. Dengan mencapai superiority berarti seseorang secara terus-menerus berusaha untuk menjadi lebih baik.

Sebenarnya hal yang wajar apabila setiap orang memiliki perasaan inferior dan superior. Namun, menjadi tidak wajar apabila perasaan yang dimilikinya tersebut berlebihan dan menjurus pada suatu inferiority atau superiority complex. Kedua komplek tersebut saling berhubungan erat. Superiority complex selalu menutupi peraaan inferior, dan inferiority complex selalu menyembunyikan perasaan superior. Beberapa kondisi seperti dimanjakan dan ditolak dapat membuat orang membentuk inferiority atau superiority complex.

Di masa remajanya, Bambang pernah mengalami kegagalan dalam kehidupan percintaannya. Bambang pernah memiliki seorang pacar, tetapi hubungan itu harus berakhir karena ia diputus oleh pacarnya tersebut. Penyebabnya adalah adanya perempuan lain yang berusaha mendekati Bambang. Meskipun tidak menyukainya, tetapi Bambang tidak bisa menunjukkan sikap yang tegas terhadap perempuan tersebut. Merasa dirinya setia dan tidak melakukan kesalahan apa pun, maka Bambang tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia pun merasa di-reject atau ditolak, terlebih lagi ini merupakan pengalaman cinta pertamanya.

Bambang sendiri sebenarnya telah mempunyai gambaran ideal mengenai hubungan yang akan dijalinnya dengan lawan jenis. Ia belajar melalui orang tuanya. Ketika kecil, kehidupan pernikahan orang tuanya tidak harmonis. Pekerjaan ayahnya di bidang entertainment membuatnya sering berhubungan dengan perempuan-perempuan cantik. Ia menjadi sering terlibat affair. Keadaan ini memicu pertengkaran antara ayah dan ibu Bambang. Puncaknya adalah ketika ibu Bambang harus dirawat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri dengan menegak baygon. Kejadian ini terjadi saat Bambang berusia sekitar enam tahun. Hal ini begitu membekas pada diri Bambang,

Melihat penderitaan ibunya membuat Bambang tidak ingin menyakiti perasaan perempuan. Ia tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Maka dalam membina hubungan dengan lawan jenis, ia ingin menjadi seorang laki-laki yang setia. Namun, peristiwa diputus pacarnya tersebut membuat hancur gambaran ideal Bambang tentang dirinya dan hubungan yang ingin dijalinnya. Meskipun setia, tetapi pacarnya tidak menganggap kalau dirinya setia. Bambang sendiri masih sangat mencintai pacarnya tersebut.

Pada saat itu muncullah perasaan inferior dalam dirinya, yang menjurus ke arah kompleks. Ia terpuruk dan kehidupannya menjadi kacau balau. Ia bahkan terjerumus dalam pemakaian drugs. Namun, kemudian Bambang sadar bahwa hal ini justru akan memperburuk citranya. Ia akan semakin dijauhi, sehingga perasaan inferiornya akan semakin bertambah. Akhirnya secara tidak sadar Bambang mengembangkan superiotiy complex untuk mengatasi atau mengkompensasikan perasaan inferiority complex-nya. Dengan pesonanya ia mendekati banyak perempuan. Ketika perempuan-perempuan tersebut mulai menyukainya dan menyatakan perasaan padanya, ia selalu berusaha menghindari adanya komitmen. Ia hanya ingin menunjukkan dan membuktikan pada dirinya sendiri dan orang lain bahwa banyak perempuan yang menyukainya dan menginginkannya menjadi pasangannya.

Meskipun banyak perempuan di sekelilingnya, tetapi Bambang sendiri tidak pernah yakin akan perasaannya. Ia tidak tahu lagi apakah cinta itu. Selama ini, yang dikejarnya hanya lah kepuasan diri. Semakin banyak perempuan yang menyukainya, maka semakin besar pula egonya. Sayangnya, Bambang tidak menyadari bahwa itu adalah sia-sia belaka. Dalam dirinya ia hanya menemukan rasa sepi dan kehampaan. Ia menyikapi kegagalan hubungan percintaannya dengan cara yang salah. Sekarang ia hanya bisa menyesali masa lalunya. Sungguh merupakan balada seorang pria dengan superiority complex.

Tulisan untuk harian Suara Pembaruan