Akhir-akhir ini kita sering mendengar pertanyaan “Mudik nggak tahun ini ?”, “Mau mudik kemana ?”, atau “Kapan mudik ?” . Hari raya Lebaran sebentar lagi akan tiba dan mudik adalah suatu fenomena yang menyertainya. Di Indonesia mudik identik sebagai tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya keagamaan, terutama Lebaran. Semakin mendekati Lebaran, orang semakin sibuk menyiapkan diri untuk mudik.

Mudik merupakan suatu fenomena yang terjadi setahun sekali. Apabila ditinjau dari pengertiannya mudik adalah kegiatan penduduk perkotaan untuk kembali ke daerah tempat kelahirannya. Meskipun demikian istilah mudik akan jarang digunakan apabila kegiatan penduduk perkotaan untuk kembali ke daerah tempat kelahirannya tersebut tidak dilakukan menjelang hari raya keagamaan, terutama Lebaran. Biasanya orang akan mengatakannya sebagai pulang kampung atau balik ke……(sesuai nama daerah atau kota asalnya).

Bagi sebagian besar masyarakat, mudik merupakan tradisi yang harus dilaksanakan. Sebenarnya sangat mengherankan melihat orang rela berdesak-desakan mengantri di stasiun atau terminal hanya untuk mendapatkan tiket. Bahkan mereka juga rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli tiket yang harganya membumbung tinggi. Segala daya upaya akan mereka lakukan asalkan dapat mudik. Ketika tidak mendapatkan tiket atau tidak mempunyai uang yang cukup, mereka akan mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil. Meskipun harus menghadapi kemacetan lalu lintas dan mengalami kepenatan berkendara selama berjam-jam bahkan berhari-hari, namun hal tersebut tidak mengurangi semangat mereka. 

Sebagai tradisi yang sudah melekat, mudik tidak hanya dilaksanakan oleh umat muslim tetapi juga non muslim. Entah sekedar memanfaatkan momentum cuti bersama atau ingin bertoleransi dengan umat muslim, tetapi umat non muslim pun rela mengalami “penderitaan” yang sama dengan umat muslim dalam mengantri tiket dan menghadapi kemacetan lalu lintas. “Penderitaan” yang dialami justru sering dianggap sebagai seni dalam mudik.

Kembali ke daerah tempat kelahiran pada saat Lebaran, memberi kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan. Di hari Lebaran orang akan bertemu saudara, kerabat, teman, dan tetangga yang lama tidak dijumpainya.  Mereka akan saling memberikan ucapan selamat hari raya dan meminta maaf satu sama lain. Biasanya beberapa hari setelah hari Lebaran akan dilaksanakan acara halal bihalal atau reuni sekolah.

Selain itu, mudik juga menjadi sarana untuk berkunjung atau sowan pada orang tua. Meminta maaf atau sungkem kepada orang tua merupakan suatu keharusan di hari Lebaran. Setelah itu biasanya akan dilanjutkan dengan sungkem pada  saudara-saudara yang lebih tua atau sesepuh dalam keluarga. Meskipun saudara yang lebih tua atau sesepuh dalam keluarga tersebut non muslim, tetapi sungkem tetap dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi. Hal ini terutama banyak dilakukan di lingkup masyarakat Jawa.

 Pada dasarnya esensi dari mudik adalah dapat bertemu dan berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara saat Lebaran. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut membawa kebahagiaan dan kepuasan tersendiri di hati setiap orang. Oleh karena itu bagaimana pun beratnya “penderitaan” dan kesulitan yang harus dihadapi tidak akan mengubah niat mereka untuk terus melaksanakan tradisi mudik sebagai suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan setiap tahun.  

Ditinjau dari segi psikologi, fenomena mudik dapat dijelaskan dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Erich Fromm (1900-1980). Erich Fromm merupakan tokoh psikoanalisa yang melihat keberadaan manusia berkaitan dengan manusia lainnya atau manusia sebagai makhluk sosial. Menurutnya manusia mempunyai lima kebutuhan, yaitu relatedness, creativity, rootedness, a sense of identity, dan a frame of orientation.  

Rootedness atau keberakaran adalah kebutuhan untuk merasa nyaman di dunia. Manusia diibaratkan seperti pohon yang memiliki “akar”.  Ia perlu merasakan dunia ini sebagai tempat tinggal yang nyaman, seperti halnya rumah yang selama ini ditinggali. Layaknya akar bagi pohon, rumah bagi manusia merupakan fondasi dan sumber untuk memperoleh cinta kasih. Sumber cinta kasih yang pertama dan utama bagi manusia adalah dari orang tua, terutama ibu.

Manusia akan selalu berusaha untuk memelihara kelekatan dengan ibu. Namun seiring dengan pertambahan usia manusia perlu berkembang. Hal ini berarti manusia harus siap untuk meninggalkan kehangatan cinta yang diberikan ibu. Ia harus keluar dari rumah dan berani berpisah dengan ibu. Keadaan ini akan dihadapi ketika manusia memasuki tugas perkembangan untuk bersekolah, kemudian bekerja, dan akhirnya menikah. Menurut Fromm apabila manusia tidak berani mengambil resiko untuk melakukan hal tersebut maka akan terjadi suatu incest secara psikologis.  

Meninggalkan rumah dan kehangatan cinta yang diberikan ibu, membuat manusia harus menghadapi berbagai tantangan dunia. Guna mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi, manusia perlu menemukan akar baru yang lebih luas. Ia perlu menemukan perasaan kebersaudaraan dengan manusia lainnya. Hal ini diawali dengan menjalin suatu pertemanan atau relasi yang hangat dan akrab dengan orang lain. Ketika hubungan tersebut terbentuk maka manusia akan mendapatkan sumber cinta kasih yang baru, sehingga ia mempunyai dukungan untuk menghadapi berbagai tantangan dunia. Keadaan ini akan membentuk manusia berkembang menjadi pribadi yang untuh dan memiliki kepercayaan pada orang lain.

Mudik merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan akan keberakaran. Tidak mengherankan apabila mudik akhirnya menjadi suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, baik yang muslim maupun non muslim, pada saat Lebaran. Melalui mudik orang dapat kembali ke rumah dan merasakan kehangatan cinta kasih dari ibu. Melalui mudik orang juga dapat memelihara kebersaudaraan dengan saudara, kerabat, teman, dan tetangga yang sudah lama tidak bertemu. Mudik membuat orang menemukan kembali akar cinta kasih, sehingga ia akan siap dalam menghadapi berbagai tantangan dunia yang akan datang.