Ehmmm…..belanja ? suatu aktivitas yang menyenangkan bagi semua orang. Tidak terbatas pada kaum perempuan, tetapi juga pada kaum laki-laki. Umumnya orang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Paling tidak sebulan sekali orang akan meluangkan waktunya untuk berbelanja bulanan. Meskipun demikian, sering juga orang berbelanja hanya untuk memenuhi hasrat atau dorongan dari dalam dirinya. Banyak sekali orang yang berbelanja tanpa disertai oleh pertimbangan masak. Mereka membeli barang-barang yang “menggoda mata”, yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

            Hasrat untuk berbelanja akan semakin besar ketika melihat barang-barang yang didiskon. Menjelang Natal dan Tahun Baru, banyak mall atau department store yang menawarkan diskon. Tulisan sale terpajang besar-besar disertai angka diskon yang ditawarkan. Begitu masuk, pandangan konsumen akan langsung tertuju pada tulisan tersebut. Kemudian muncullan gairah dalam dirinya untuk mendatangi counter-counter yang berstempel diskon. Mereka tidak peduli lagi ketika harus berdesak-desakan dan berebut memilih barang-barang yang didiskon dalam rak. Akibatnya pengeluaran akan membengkak dari yang diperkirakan semula.

Apakah Belanja Impulsif ?

         Gaya belanja spontan, tanpa perencaan, merupakan pemicu timbulnya belanja impulsif. Apabila tidak dikontrol, belanja impulsif dapat menjadi habit atau kebiasaan yang tidak sehat. Belanja impulsif sendiri dapat dijelaskan sebagai belanja tanpa perencanaan, diwarnai oleh dorongan kuat untuk membeli yang muncul secara tiba-tiba dan seringkali sulit untuk ditahan. Hal ini diiringi oleh perasaan menyenangkan serta penuh gairah.

         Dengan perkataan lain, belanja impulsif adalah perilaku yang tidak dilakukan secara sengaja, dan kemungkinan besar melibatkan pula berbagai macam motif yang tidak disadari, disertai oleh perasaan menyenangkan serta penuh gairah. Dua karakteristik dari belanja impulsif, yaitu tidak direncanakan dan adanya hasrat serta gairah yang mengiringi, membedakannya dari jenis perilaku belanja “tanpa pikir” lainnya. Belanja impulsif akan berbeda dengan belanja karena kebiasaan atau belanja karena terdesak oleh keterbatasan waktu.

         Belanja impulsif dianggap sebagai perilaku belanja yang “irasional”, karena meskipun telah menyadari sebelumnya akan adanya kemungkinan merasakan penyesalan di kemudian hari tetapi orang tetap melakukan pembelanjaan. Oleh karena itu, perilaku belanja impulsif diasosiasikan dengan kecenderungan untuk mengabaikan dampak-dampak buruk yang mungkin terjadi dan yang dapat mengakibatkan penyesalan, misalnya berkaitan dengan uang yang sudah terlanjur dibelanjakan atau kualitas produk yang dibeli.

         Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya belanja impulsif, yaitu : psikologis, sosial, dan biologis. Faktor psikologis yang melatarbelakangi adalah adanya keinginan untuk meningkatkan self image dan mood. Barang atau materi seringkali dianggap sebagai simbol status. Memiliki barang “mewah” atau barang yang diinginkan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Orang yang melakukan belanja impulsif seringkali pulang dengan membawa pakaian, sepatu, make up, perhiasan, dan benda lainnya yang dapat meningkatkan penampilan.

         Faktor sosial yang melatarbelakangi adalah adanya pengaruh lingkungan. Lingkungan tempat tinggal atau bersosialisasi tentu membawa pengaruh pada munculnya kecenderungan belanja impulsif. Tinggal di kota besar, seperti Jakarta, tentu berbeda dengan tinggal di kota-kota kecil. Di kota besar banyak ditawarkan berbagai hal yang menarik, termasuk barang-barang yang menarik. Hal tersebut tentu semakin memudahkan dalam memuaskan hasrat berbelanja. Begitu juga ketika bergaul dengan orang-orang yang gemar berbelanja. Akan semakin banyak waktu yang diluangkan untuk berbelanja bersama di mall, department store atau pusat perbelanjaan lainnya.

         Faktor biologis berkaitan dengan elemen-elemen di pusat perbelanjaan yang merangsang panca indera. Pusat perbelanjaan memang dirancang sedemikian rupa sehingga menimbulkan pengalaman berbelanja yang menyenangkan. Ketika melewati atau memasuki pusat perbelanjaan panca indera akan segera terangsang atau terstimulasi dengan barang-barang yang dipajang di etalase toko atau di tempat-tempat menarik lainnya. Situasi dalam pusat perbelanjaan akan membangkitkan mood yang positif, sehingga menarik perhatian serta minat ke arah produk-produk tertentu. Maka semakin besarlah gairah untuk berbelanja, meskipun tanpa ada perencanaan sebelumnya.

Jenis Pembelanja Impulsif

         Terdapat empat jenis pembelanja impulsif. Pertama adalah tipe kompensatif. Orang yang termasuk dalam tipe ini biasanya berbelanja tanpa pikir panjang hanya karena ingin meningkatkan harga dirinya. Bagi mereka berbelanja merupakan sarana untuk melarikan diri dari berbagai masalah yang dihadapi, seperti masalah pekerjaan, rumah tangga, atau keluarga. Seringkali barang-barang yang dibeli tidak dibutuhkan, sehingga tidak dipakai dan masih tersimpan rapi dalam lemari.

         Kedua adalah tipe akseleratif. Orang yang termasuk dalam tipe ini seringkali tergoda untuk berbelanja pada saat banyak ditawarkan sale di pusat-pusat perbelanjaan. Mereka akan membeli barang-barang tersebut, meskipun tidak membutuhkannya saat membeli. Bagi mereka barang-barang yang dibeli secara murah tersebut dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan di masa depan.

         Ketiga adalah tipe terobosan. Orang yang termasuk dalam tipe ini akan membeli barang-barang mahal tanpa ada perencanaan yang matang. Ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dan melihat ada pameran mobil atau rumah, mereka akan pulang dengan menandatangi kontrak pembelian rumah atau mobil baru tersebut. Bagi mereka membeli barang-barang mahal tersebut menjadi lambang dimulainya babak baru dalam kehidupannya, meskipun sebenarnya hasrat untuk membelinya sudah lama ada.

         Keempat adalah tipe pembeli buta.  Orang yang termasuk dalam tipe ini akan membeli barang tanpa ada pertimbangan sama sekali. Sangat sulit sekali memahami apa yang melatarbelakangi mereka untuk melakukan pembelanjaan seperti itu.

Dampak Belanja Impulsif

            Kebiasaan berbelanja impulsif dapat menyebabkan timbulnya rasa bersalah. Perasaan ini akan timbul begitu mereka sampai di rumah dan melihat barang-barang yang telah dibelinya atau ketika mereka memeriksa lemari dan menyadari banyak baju, sepatu, tas, dan barang lainnya yang tidak pernah dipakai. Meskipun demikian, mereka akan membuang jauh perasaan tersebut dengan mencoba mencari alasan rasional yang melatarbelakangi pembelanjaan yang dilakukannya. Ketika berada dalam situasi yang mendorong untuk berbelanja secara impulsif lagi, terjadi pertentangan internal dalam diri mereka. Pertentangan tersebut terjadi antara “keharusan” (ought to be) dan “hasrat” (desire). Di satu sisi mereka menyadari untuk berbelanja barang-barang yang dibutuhkan saja, tetapi disisi lain ada dorongan yang kuat dalam diri mereka untuk berbelanja tanpa memperdulikan butuh atau tidak.

            Berbelanja secara impulsif tentu juga akan menimbulkan masalah keuangan. Membeli suatu barang tanpa perencaan akan mengakibatkan membengkaknya anggaran atau pengeluaran yang telah direncanakan. Apabila memiliki simpanan uang yang berlebih tentu tidak akan menjadi masalah, tetapi bagaimana jika tidak ? Bagaimana jika tagihan kartu kredit membengkak sehingga tidak sanggup lagi membayarnya ?. Oleh karena itu perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam kebiasaan berbelanja secara impulsif. Meskipun berbelanja merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan, jangan sampai terlena dalam kenikmatannya.