Pernahkan Anda merasa bersalah dalam hidup ini ? Apakah Anda pernah merasa tidak enak dengan teman, karena Anda tidak dapat menepati janji ? atau Apakah Anda pernah merasa bersalah karena berkata-kata kasar dan menyakiti hati orang lain ?  Rasa bersalah merupakan suatu bentuk emosi yang tidak dapat kita dihindarkan dan sering terjadi dalam keseharian hidup kita. Baik besar maupun kecil, setiap orang pasti pernah merasa bersalah. Rasa bersalahan ini akan menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan bagi diri kita.

Emosi

            Apabila ditelusuri, rasa bersalah merupakan suatu bentuk emosi yang negatif. Lebih jauh lagi, rasa bersalah tergolong dalam bagian dari rasa sedih (Tangney & Fischer, 1995; Kowalski, R. & Westen, D., 2005). Emosi sendiri didefinisikan sebagai  respon evaluatif (perasaan positif atau negatif), dimana pada umumnya meliputi beberapa kombinasi dari kondisi fisiologis, pengalaman subjektif, dan ekspresi perilaku atau emosi. (Kowalski, R. & Westen, D.; 2005). Sedangkan Atwater (dikutip oleh Fitri, R. A. ; 2005) mengemukakan bahwa emosi merupakan keadaan kompleks yang menimbulkan sensasi di dalam diri dan ekspresi tertentu yang memotivasi manusia untuk bertingkah laku. Jadi dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan keadaan kompleks, yang meliputi komponen perubahan fisiologis, penghayatan subjektif, dan ekspresi emosi, yang memotivasi manusia untuk bertingkah laku. Emosi sendiri sering juga disebut sebagai afek (Kowalski, R. & Westen, D.; 2005).            

            Bentuk emosi rasa bersalah dapat ditemukan dalam suatu hubungan sosial, dimana orang tidak hanya beriteraksi melainkan juga mengevaluasi dan menilai dirinya sendiri dan orang lain (Tangney & Fischer, 1995). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Baumeister, Stillwell, & Heatherton (dikutip oleh Voracek, M., Rekkas, P. Vivien, & Cox, Anthony; 2008), dimana rasa bersalah dilihat sebagai fenomena interpersonal yang secara fungsi dan sebab musababnya dikaitkan dalam hubungan komunal dengan orang lain. Lebih lanjut dikemukan bahwa rasa bersalah menjadi mekanisme untuk mengurangi ketidakseimbangan atau ketidakadilan berkaitan dengan distres emosi yang terjadi dalam suatu relasi.

Rasa bersalah dapat muncul ketika seseorang melanggar suara hatinya, dimana suara hati merupakan standar baik dan buruk yang telah diinternalisasi (Fitri, R. A. ; 2005). Sedangkan menurut Tillotseon (Fitri, R. A. ; 2005), rasa bersalah muncul ketika seseorang melakukan sesuatu hal yang bertentangan dengan apa yang dianggap sebagai kewajiban dan tanggung jawabnya. Dapat dilihat disini bahwa rasa bersalah menjadi pusat dari perilaku yang bertanggungjawab (dikutip oleh Voracek, M., Rekkas, P. Vivien, & Cox, Anthony; 2008). Selain itu, rasa bersalah berperan memberikan peringatan mengenai tindakan seseorang yang tidak dapat diterima oleh patner dan kelompok sosial (Voracek, M., Rekkas, P. Vivien, & Cox, Anthony; 2008).

Tinjauan Psikoloanalisa

Apabila ditinjau dari pendekatan Psikoanalisa, rasa bersalah bersumber dari berfungsinya super ego. Super ego terdiri dari dua bagian, yaitu ego ideal dan conscience (hati nurani). Bagian super ego yang lebih berkaitan dengan rasa bersalah adalah hati nurani. Sebagai bagian dari kepribadian, mekanisme yang terjadi di dalam hati nurani adalah seseorang akan merasa bangga apabila melakukan hal yang benar, dan merasa bersalah atau mengalami kecemasan moral apabila melakukan hal yang salah. Pada anak, superego terbentuk pada anak usia pra sekolah. Di masa ini mereka belajar berbagai macam aturan, norma, dan harapan dari masyarakat. (Kowalski, R. & Westen, D.; 2005). 

            Apabila membicarakan tentang rasa bersalah, maka menurut Atwater (dikutip oleh Fitri, R. A.; 2005) emosi yang muncul merupakan campuran antara penyesalan yang dalam, menyalahkan diri sendiri, dan ketakutan atau kecemasan akan hukuman yang diterima. Jenkins (dikutip oleh Reyment, Martin L. dalam Fitri, R. A. ; 2005) menambahkan, bahwa ketika seseorang merasa bersalah, maka ia akan merasakan dirinya tidak berharga. Hal ini timbul sebagai perwujudan dari adanya perbedaan yang besar antara tingkah laku dan standar moral atau etik yang ditentukan untuk dirinya sendiri. Selain itu, rasa bersalah juga disertai dengan adanya perasaan tidak nyaman atau malu, karena seseorang memiliki pikiran, perasaan, atau tindakan yang dianggap salah, buruk, atau tidak bermoral (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005)

Kriteria Rasa Bersalah yang Tepat :

Rasa bersalah yang dimiliki setiap orang dinilai berdasarkan tepat atau tidaknya perasaan tersebut untuk dimiliki. Rasa bersalah akan tepat dimiliki oleh seseorang apabila tindakan yang dilakukannya tersebut secara sah telah mengurangi self esteemnya.  Kata sah ditekankan dan menjadi kualifikasi yang penting, karena seseorang dapat memiliki harapan positif yang tidak realistis pada diri sendiri dan akan merasa benci pada dirinya sendiri apabila tidak dapat memenuhi harapan tersebut (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A.. ;  2005).  Misalnya, ketika seorang anak berusia dua belas tahun memiliki harapan untuk menjadi pahlawan bagi keluarganya dengan menjadi tulang punggung keluarga, tetapi tidak dapat mewujudkan harapannya tersebut karena ia belum dapat bekerja seperti layaknya orang dewasa dan mendapat penghasilan yang besar. Hal ini dapat menimbulkan rasa bersalah pada anak tersebut.

            Alasan kedua, mengapa kata sah menjadi kualifikasi yang penting adalah karena dimilikinya perasaan untuk dapat disayang atau dicintai tergantung pada penilaian orang lain (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005).  Penilaian orang lain terhadap seseorang yang semula positif dan kemudian berubah menjadi negatif dapat dipengaruhi oleh perasaan kecewa. Misalnya, ketika seorang menjadi sahabat dekat dari orang lain, dimana ia sangat dipercaya untuk menyimpan rahasia-rahasiannya, tetapi karena adanya tekanan dari pihak lain maka orang tersebut mengemukakan rahasia sabahatnya. Ketika sahabatnya mengetahui mengenai hal tersebut maka ia menjadi sangat marah dan persahabatan mereka pun menjadi renggang. Maka orang tersebut akan diliputi perasaan bersalah, karena self esteemnya sangat terpengaruh oleh bagaimana pandangan temannya terhadap dirinya.

            Alasan ketiga, dimana kata sah menjadi kualifikasi penting dalam ketepatan rasa bersalah, adalah karena self esteem yang dimiliki seseorang dapat mengacu pada moral absolut yang tidak masuk akal. Apabila seseorang tidak bertingkah laku sesuai dengan hal yang dianggapnya absolut tersebut, maka self esteemnya dapat berkurang (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005). Misalnya, ketika seseorang memiliki standar moral bahwa berbohong itu berdosa, maka self esteemnya akan berkurang apabila ia melalukan kebohongan pada orang lain. Standar moral ini adalah sesuatu hal yang mutlak ketika tidak ada toleransi pada pengecualian.

Tipe Rasa Bersalah :

            Cavanagh (dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005) mengemukakan tiga tipe rasa bersalah, yaitu rasa bersalah psikologi (psychological guilt), rasa bersalah sosial (social guilt), dan rasa bersalah religius (religious guilt). Psychological guilt akan terjadi ketika seseorang menampilkan tingkah laku yang bertentangan dengan konsep dirinya. Hal ini bersifat intrapersonal, karena berhubungan dengan individu itu sendiri. Social guilt merupakan suatu kesalahan dimana secara psikologis dan jasmani akan menimbulkan ketidakadilan bagi orang lain.  Perlu dipahami bahwa dimesi sosial dari sistem nilai akan memberi petunjuk pada individu tentang cara bertingkah laku tertentu yang akan membantu orang lain dan cara bertingkah laku tertentu yang akan merugikan orang lain. Sedangkan religious guilt akan terjadi pada seseorang yang religius dan yang merasa bahwa tingkah lakunya dapat menyakiti Tuhan atau mengiris kesatuan antara dirinya dengan Tuhan.

            Meskipun menjadi salah satu bentuk emosi yang negatif, tetapi rasa bersalah  berperan penting dalam perkembangan psikologis dan kebahagiaan seseorang. Apabila rasa bersalah dimiliki seseorang secara tepat, maka hal tersebut akan membantunya untuk berhenti melakukan tindakan yang dapat merusak self esteemnya. Selain itu, rasa bersalah akan membantunya untuk berhenti menampilkan perilaku yang dapat menyebabkan adanya jarak antara dirinya dengan orang lain. Rasa bersalah akan memotivasi seseorang yang berbuat salah untuk membetulkan efek kerusakan yang ditimbulkannya dan mengubah perilakunya di masa yang akan datang (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005). Tangney & Fischer (1995) mengemukakan bahwa rasa bersalah dapat mengembangkan perilaku bermoral, prososial, dan allocentric, perasaan bahwa moral berharga, serta menghormati hak dan perasaan orang lain. Jenkins (dikutip oleh Fitri, R. A. ; 2005) menambahkan bahwa perasaan bersalah yang muncul berkaitan dengan apa yang telah dilakukan seseorang, sering mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. Rasa bersalah disini akan berfungsi untuk mengalihkan perilaku individu agar selaras dengan standar moral atau etiknya.

            Sebagai sebuah bentuk emosi, rasa bersalah dapat menimbulkan suatu reaksi fisiologis tertentu, misalnya meningkatnya detak jantung dan kondisi tubuh yang dirasakan berat (Tangney & Fischer, 1995). Kondisi yang tidak nyaman ini, menurut Jenkins  (dikutip oleh Fitri, R. A. ; 2005) akan membuat orang yang merasa bersalah berusaha untuk menemukan pelepasan dari perasaannya tersebut. Secara keagaman, pelepasan ini dapat dilakukan dengan penyesalan atau pertobatan.  Penyesalan merupakan suatu kesadaran dan penerimaan akan kesalahan, yang disertai dengan penentuan untuk melakukan tindakan yang lebih baik. Penyesalan ini dapat diungkapkan melalui pengakutan atas kesalahan dan upaya untuk membayarnya.

            Rasa bersalah sendiri dapat disadari (conscious) atau tidak disadari (unconscious) (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005). Apabila seseorang kurang memiliki kekuatan psikologis untuk menghadapi rasa bersalah, maka defense mechanism akan menahannya dan kemudian memindahkannya dalam ketidaksadaran. Hal ini memungkinkan orang tersebut melakukan penyangkalan dengan mengemukakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan perbuatan yang membuatnya merasa bersalah dalam hidup ini.  Namun, rasa bersalah yang tidak disadari ini tidak dapat digunakan sebagai sarana pertumbuhan, karena orang tersebut tidak pernah menyadari atau memunculkan rasa bersalah dalam dirinya. Ketika seseorang memiliki rasa bersalah yang tidak disadari, maka ia dapat menggunakan sarana pertobatan berupa penghukuman diri. 

            Penghukuman diri ini sebenarnya dapat mengurasi kecemasan yang ditimbulkan oleh perasaan bersalah, tetapi hal tersebut menimbulkan permasalahan tersendiri. Pertama, apabila penghukuman diri dimotivasi oleh kesalahan yang tidak disadari, maka tidak ada kontrol terhadap hal tersebut. Tidak adanya kontrol tersebut menyebabkan penghukuman diri dapat berpengaruh pada area yang penting dan berharga dalam kehidupan seseorang, seperti performance kerja dan hubungan cinta. Kedua, tingkah laku penghukuman diri hampir selalu berdampak pada orang-orang yang dicintai. Kondisi ini justru akan semakin menambah rasa bersalah yang dimilikinya. Ketiga, umumnya orang tidak menyadari bahwa tingkah lakunya disebabkan atau menyebabkan kesalahan yang tidak disadari, sehinggga tingkah laku tersebut akan semakin berlanjut dan menyebabkan berulangnya siklus penghukuman diri. Keempat, semakin seseorang menghukum dirinya, maka ia akan menjadi semakin membenci dirinya sendiri (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005).

            Berbeda dengan rasa bersalah yang tidak disadari, rasa bersalah yang disadari memberikan kesempatan untuk perbaikan yang membangun. Hal ini dapat dicapai melalui proses pertobatan. Saat menjalankan pertobatan, orang akan menggunakan rasa bersalah secara konstruktif untuk menjadi lebih baik, baik berkaitan dengan dirinya sendiri dan dengan orang yang dirusak atau dirugikan oleh tingkah lakunya yang salah. Tidak seperti resolusi kesalahan melalui penghukuman diri, tujuan utama pertobatan bukan untuk mengurangi kecemasan tetapi sebisa mungkin menyembuhkan luka dan membuat perubahan untuk menurunkan kecenderungan tingkah laku tersebut akan terjadi lagi (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005). 

Apabila memerlukan daftar pustaka berkaitan dengan artikel ini dapat menghubungi vishakadharma@yahoo.com