Latest Entries »

Rasa Bersalah

 

            Pernahkan Anda merasa bersalah dalam hidup ini ? Apakah Anda pernah merasa tidak enak dengan teman, karena Anda tidak dapat menepati janji ? atau Apakah Anda pernah merasa bersalah karena berkata-kata kasar dan menyakiti hati orang lain ?  Rasa bersalah merupakan suatu bentuk emosi yang tidak dapat kita dihindarkan dan sering terjadi dalam keseharian hidup kita. Baik besar maupun kecil, setiap orang pasti pernah merasa bersalah. Rasa bersalahan ini akan menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan bagi diri kita.

Emosi

            Apabila ditelusuri, rasa bersalah merupakan suatu bentuk emosi yang negatif. Lebih jauh lagi, rasa bersalah tergolong dalam bagian dari rasa sedih (Tangney & Fischer, 1995; Kowalski, R. & Westen, D., 2005). Emosi sendiri didefinisikan sebagai  respon evaluatif (perasaan positif atau negatif), dimana pada umumnya meliputi beberapa kombinasi dari kondisi fisiologis, pengalaman subjektif, dan ekspresi perilaku atau emosi. (Kowalski, R. & Westen, D.; 2005). Sedangkan Atwater (dikutip oleh Fitri, R. A. ; 2005) mengemukakan bahwa emosi merupakan keadaan kompleks yang menimbulkan sensasi di dalam diri dan ekspresi tertentu yang memotivasi manusia untuk bertingkah laku. Jadi dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan keadaan kompleks, yang meliputi komponen perubahan fisiologis, penghayatan subjektif, dan ekspresi emosi, yang memotivasi manusia untuk bertingkah laku. Emosi sendiri sering juga disebut sebagai afek (Kowalski, R. & Westen, D.; 2005).            

            Bentuk emosi rasa bersalah dapat ditemukan dalam suatu hubungan sosial, dimana orang tidak hanya beriteraksi melainkan juga mengevaluasi dan menilai dirinya sendiri dan orang lain (Tangney & Fischer, 1995). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Baumeister, Stillwell, & Heatherton (dikutip oleh Voracek, M., Rekkas, P. Vivien, & Cox, Anthony; 2008), dimana rasa bersalah dilihat sebagai fenomena interpersonal yang secara fungsi dan sebab musababnya dikaitkan dalam hubungan komunal dengan orang lain. Lebih lanjut dikemukan bahwa rasa bersalah menjadi mekanisme untuk mengurangi ketidakseimbangan atau ketidakadilan berkaitan dengan distres emosi yang terjadi dalam suatu relasi.

Rasa bersalah dapat muncul ketika seseorang melanggar suara hatinya, dimana suara hati merupakan standar baik dan buruk yang telah diinternalisasi (Fitri, R. A. ; 2005). Sedangkan menurut Tillotseon (Fitri, R. A. ; 2005), rasa bersalah muncul ketika seseorang melakukan sesuatu hal yang bertentangan dengan apa yang dianggap sebagai kewajiban dan tanggung jawabnya. Dapat dilihat disini bahwa rasa bersalah menjadi pusat dari perilaku yang bertanggungjawab (dikutip oleh Voracek, M., Rekkas, P. Vivien, & Cox, Anthony; 2008). Selain itu, rasa bersalah berperan memberikan peringatan mengenai tindakan seseorang yang tidak dapat diterima oleh patner dan kelompok sosial (Voracek, M., Rekkas, P. Vivien, & Cox, Anthony; 2008).

Tinjauan Psikoloanalisa

Apabila ditinjau dari pendekatan Psikoanalisa, rasa bersalah bersumber dari berfungsinya super ego. Super ego terdiri dari dua bagian, yaitu ego ideal dan conscience (hati nurani). Bagian super ego yang lebih berkaitan dengan rasa bersalah adalah hati nurani. Sebagai bagian dari kepribadian, mekanisme yang terjadi di dalam hati nurani adalah seseorang akan merasa bangga apabila melakukan hal yang benar, dan merasa bersalah atau mengalami kecemasan moral apabila melakukan hal yang salah. Pada anak, superego terbentuk pada anak usia pra sekolah. Di masa ini mereka belajar berbagai macam aturan, norma, dan harapan dari masyarakat. (Kowalski, R. & Westen, D.; 2005). 

            Apabila membicarakan tentang rasa bersalah, maka menurut Atwater (dikutip oleh Fitri, R. A.; 2005) emosi yang muncul merupakan campuran antara penyesalan yang dalam, menyalahkan diri sendiri, dan ketakutan atau kecemasan akan hukuman yang diterima. Jenkins (dikutip oleh Reyment, Martin L. dalam Fitri, R. A. ; 2005) menambahkan, bahwa ketika seseorang merasa bersalah, maka ia akan merasakan dirinya tidak berharga. Hal ini timbul sebagai perwujudan dari adanya perbedaan yang besar antara tingkah laku dan standar moral atau etik yang ditentukan untuk dirinya sendiri. Selain itu, rasa bersalah juga disertai dengan adanya perasaan tidak nyaman atau malu, karena seseorang memiliki pikiran, perasaan, atau tindakan yang dianggap salah, buruk, atau tidak bermoral (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005)

Kriteria Rasa Bersalah yang Tepat :

Rasa bersalah yang dimiliki setiap orang dinilai berdasarkan tepat atau tidaknya perasaan tersebut untuk dimiliki. Rasa bersalah akan tepat dimiliki oleh seseorang apabila tindakan yang dilakukannya tersebut secara sah telah mengurangi self esteemnya.  Kata sah ditekankan dan menjadi kualifikasi yang penting, karena seseorang dapat memiliki harapan positif yang tidak realistis pada diri sendiri dan akan merasa benci pada dirinya sendiri apabila tidak dapat memenuhi harapan tersebut (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A.. ;  2005).  Misalnya, ketika seorang anak berusia dua belas tahun memiliki harapan untuk menjadi pahlawan bagi keluarganya dengan menjadi tulang punggung keluarga, tetapi tidak dapat mewujudkan harapannya tersebut karena ia belum dapat bekerja seperti layaknya orang dewasa dan mendapat penghasilan yang besar. Hal ini dapat menimbulkan rasa bersalah pada anak tersebut.

            Alasan kedua, mengapa kata sah menjadi kualifikasi yang penting adalah karena dimilikinya perasaan untuk dapat disayang atau dicintai tergantung pada penilaian orang lain (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005).  Penilaian orang lain terhadap seseorang yang semula positif dan kemudian berubah menjadi negatif dapat dipengaruhi oleh perasaan kecewa. Misalnya, ketika seorang menjadi sahabat dekat dari orang lain, dimana ia sangat dipercaya untuk menyimpan rahasia-rahasiannya, tetapi karena adanya tekanan dari pihak lain maka orang tersebut mengemukakan rahasia sabahatnya. Ketika sahabatnya mengetahui mengenai hal tersebut maka ia menjadi sangat marah dan persahabatan mereka pun menjadi renggang. Maka orang tersebut akan diliputi perasaan bersalah, karena self esteemnya sangat terpengaruh oleh bagaimana pandangan temannya terhadap dirinya.

            Alasan ketiga, dimana kata sah menjadi kualifikasi penting dalam ketepatan rasa bersalah, adalah karena self esteem yang dimiliki seseorang dapat mengacu pada moral absolut yang tidak masuk akal. Apabila seseorang tidak bertingkah laku sesuai dengan hal yang dianggapnya absolut tersebut, maka self esteemnya dapat berkurang (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005). Misalnya, ketika seseorang memiliki standar moral bahwa berbohong itu berdosa, maka self esteemnya akan berkurang apabila ia melalukan kebohongan pada orang lain. Standar moral ini adalah sesuatu hal yang mutlak ketika tidak ada toleransi pada pengecualian.

Tipe Rasa Bersalah :

            Cavanagh (dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005) mengemukakan tiga tipe rasa bersalah, yaitu rasa bersalah psikologi (psychological guilt), rasa bersalah sosial (social guilt), dan rasa bersalah religius (religious guilt). Psychological guilt akan terjadi ketika seseorang menampilkan tingkah laku yang bertentangan dengan konsep dirinya. Hal ini bersifat intrapersonal, karena berhubungan dengan individu itu sendiri. Social guilt merupakan suatu kesalahan dimana secara psikologis dan jasmani akan menimbulkan ketidakadilan bagi orang lain.  Perlu dipahami bahwa dimesi sosial dari sistem nilai akan memberi petunjuk pada individu tentang cara bertingkah laku tertentu yang akan membantu orang lain dan cara bertingkah laku tertentu yang akan merugikan orang lain. Sedangkan religious guilt akan terjadi pada seseorang yang religius dan yang merasa bahwa tingkah lakunya dapat menyakiti Tuhan atau mengiris kesatuan antara dirinya dengan Tuhan.

            Meskipun menjadi salah satu bentuk emosi yang negatif, tetapi rasa bersalah  berperan penting dalam perkembangan psikologis dan kebahagiaan seseorang. Apabila rasa bersalah dimiliki seseorang secara tepat, maka hal tersebut akan membantunya untuk berhenti melakukan tindakan yang dapat merusak self esteemnya. Selain itu, rasa bersalah akan membantunya untuk berhenti menampilkan perilaku yang dapat menyebabkan adanya jarak antara dirinya dengan orang lain. Rasa bersalah akan memotivasi seseorang yang berbuat salah untuk membetulkan efek kerusakan yang ditimbulkannya dan mengubah perilakunya di masa yang akan datang (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005). Tangney & Fischer (1995) mengemukakan bahwa rasa bersalah dapat mengembangkan perilaku bermoral, prososial, dan allocentric, perasaan bahwa moral berharga, serta menghormati hak dan perasaan orang lain. Jenkins (dikutip oleh Fitri, R. A. ; 2005) menambahkan bahwa perasaan bersalah yang muncul berkaitan dengan apa yang telah dilakukan seseorang, sering mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. Rasa bersalah disini akan berfungsi untuk mengalihkan perilaku individu agar selaras dengan standar moral atau etiknya.

            Sebagai sebuah bentuk emosi, rasa bersalah dapat menimbulkan suatu reaksi fisiologis tertentu, misalnya meningkatnya detak jantung dan kondisi tubuh yang dirasakan berat (Tangney & Fischer, 1995). Kondisi yang tidak nyaman ini, menurut Jenkins  (dikutip oleh Fitri, R. A. ; 2005) akan membuat orang yang merasa bersalah berusaha untuk menemukan pelepasan dari perasaannya tersebut. Secara keagaman, pelepasan ini dapat dilakukan dengan penyesalan atau pertobatan.  Penyesalan merupakan suatu kesadaran dan penerimaan akan kesalahan, yang disertai dengan penentuan untuk melakukan tindakan yang lebih baik. Penyesalan ini dapat diungkapkan melalui pengakutan atas kesalahan dan upaya untuk membayarnya.

            Rasa bersalah sendiri dapat disadari (conscious) atau tidak disadari (unconscious) (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005). Apabila seseorang kurang memiliki kekuatan psikologis untuk menghadapi rasa bersalah, maka defense mechanism akan menahannya dan kemudian memindahkannya dalam ketidaksadaran. Hal ini memungkinkan orang tersebut melakukan penyangkalan dengan mengemukakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan perbuatan yang membuatnya merasa bersalah dalam hidup ini.  Namun, rasa bersalah yang tidak disadari ini tidak dapat digunakan sebagai sarana pertumbuhan, karena orang tersebut tidak pernah menyadari atau memunculkan rasa bersalah dalam dirinya. Ketika seseorang memiliki rasa bersalah yang tidak disadari, maka ia dapat menggunakan sarana pertobatan berupa penghukuman diri. 

            Penghukuman diri ini sebenarnya dapat mengurasi kecemasan yang ditimbulkan oleh perasaan bersalah, tetapi hal tersebut menimbulkan permasalahan tersendiri. Pertama, apabila penghukuman diri dimotivasi oleh kesalahan yang tidak disadari, maka tidak ada kontrol terhadap hal tersebut. Tidak adanya kontrol tersebut menyebabkan penghukuman diri dapat berpengaruh pada area yang penting dan berharga dalam kehidupan seseorang, seperti performance kerja dan hubungan cinta. Kedua, tingkah laku penghukuman diri hampir selalu berdampak pada orang-orang yang dicintai. Kondisi ini justru akan semakin menambah rasa bersalah yang dimilikinya. Ketiga, umumnya orang tidak menyadari bahwa tingkah lakunya disebabkan atau menyebabkan kesalahan yang tidak disadari, sehinggga tingkah laku tersebut akan semakin berlanjut dan menyebabkan berulangnya siklus penghukuman diri. Keempat, semakin seseorang menghukum dirinya, maka ia akan menjadi semakin membenci dirinya sendiri (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005).

            Berbeda dengan rasa bersalah yang tidak disadari, rasa bersalah yang disadari memberikan kesempatan untuk perbaikan yang membangun. Hal ini dapat dicapai melalui proses pertobatan. Saat menjalankan pertobatan, orang akan menggunakan rasa bersalah secara konstruktif untuk menjadi lebih baik, baik berkaitan dengan dirinya sendiri dan dengan orang yang dirusak atau dirugikan oleh tingkah lakunya yang salah. Tidak seperti resolusi kesalahan melalui penghukuman diri, tujuan utama pertobatan bukan untuk mengurangi kecemasan tetapi sebisa mungkin menyembuhkan luka dan membuat perubahan untuk menurunkan kecenderungan tingkah laku tersebut akan terjadi lagi (Cavanagh, dikutip oleh Fitri, R. A. ;  2005). 

Apabila memerlukan daftar pustaka berkaitan dengan artikel ini dapat menghubungi vishakadharma@yahoo.com

             Istilah kesejahteraan subjektif (subjective well being) merupakan istilah yang kurang populer, khususnya jika dibandingkan dengan kesejahteraan psikologis (psychological well being) yang dikemukakan oleh Carol D. Ryff pada tahun 1989. Padahal untuk dapat memahami konsep kesejahteraan psikologis, akan jauh lebih baik bila memahami subjective well-being terlebih dahulu. Ryff sendiri membangun konsep kesejahteraan psikologis dengan menganalisis teori-teori kesehatan mental yang pernah ada sebelumnya, termasuk subjective well-being (subjective well-being).

 Pengertian Subjective Well-being

                Menurut Ed Diener, Eunkook Suh, dan Shigehiro Oishi (1997), subjective well-being mengacu pada bagaimana orang mengevaluasi hidup mereka. Di dalamnya meliputi variabel-variabel seperti kepuasan dalam hidup dan kepuasan pernikahan, tidak adanya depresi dan kecemasan, serta adanya suasana hati (mood) dan emosi yang positif. Lebih lanjut disimpulkan oleh William C. Compton (2005), bahwa secara garis besar, indeks subjective well-being seseorang dilihat dari skor dua variabel utama, yaitu kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup.

                Untuk dapat mengetahui seseorang bahagia atau tidak, orang tersebut akan diminta untuk menjelaskan tentang keadaan emosinya dan bagaimana perasaannya tentang dunia sekitar dan dirinya sendiri. Jadi tampak bahwa ada aspek afektif yang terlibat saat seseorang mengevaluasi kebahagiaannya. Sedangkan dalam menilai kepuasan hidup lebih melibatkan aspek kognitif karena terdapat penilaian yang dilakukan secara sadar.

                Orang yang indeks subjective well-being-nya tinggi adalah orang yang puas dengan hidupnya dan sering merasa bahagia, serta jarang merasakan emosi yang tidak menyenangkan seperti sedih atau marah. Sebaliknya, orang yang indeks subjective well-being-nya rendah adalah orang yang kurang puas dengan hidupnya, jarang merasa bahagia, dan lebih sering merasakan emosi yang tidak menyenangkan, seperti marah atau cemas.

                Meskipun dinilai dari kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup, tetapi subjective well-being bukanlah istilah yang sinonim dengan kesehatan mental atau kesehatan psikologis. Misalnya pada orang yang mengalami delusi, meskipun tidak dapat memahami kenyataan seperti apa adanya tetapi ia dapat merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya.  

Tiga Komponen

 

                Terdapat tiga komponen utama dari subjective well-being, yaitu kepuasan, afek menyenangkan, dan afek tidak menyenangkan dalam level yang rendah (Diener, et al, 1997). Setiap komponen terbagi lagi menjadi beberapa subkomponen. Kepuasan umum dapat terbagi menjadi kepuasan dalam berbagai bidang dalam hidup, seperti rekreasi, cinta, pernikahan, persahabatan, dan lain sebagainya. Afek menyenangkan dapat dibagi menjadi emosi khusus, seperti kebahagiaan, afeksi, dan harga diri. Afek yang tidak menyenangkan dapat dipisahkan menjadi emosi dan mood khusus, seperti malu, marah, sedih, rasa bersalah, dan cemas.

Masing-masing subkomponen ini juga masih terbagi lagi ke dalam beberapa bagian. Akhirnya, subjective well-being dapat dilihat dari level yang paling umum atau dari level yang paling sempit, tergantung pada tujuan penilaian. Misalnya, penilaian dapat melihat kepuasan dalam hidup secara menyeluruh atau sekedar melihat kepuasan dalam perkawinan.

Bottom Up dan Top Down Theory

                   Diener (dikutip oleh Compton, 2005) mengemukakan bahwa kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan dapat dijelaskan dengan menggunakan dua pendekatan umum, yaitu bottom up theory dan top down theory. Dalam bottom up theory, kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan seseorang akan tergantung pada banyaknya jumlah kepuasan kecil dan kebahagiaan sesaat yang dialaminya. Dengan kata lain, subjective well-being dilihat sebagai penjumlahan pengalaman positif dalam kehidupan seseorang. Semakin sering seseorang mengalami peristiwa yang menyenangkan, maka ia akan semakin bahagia.

                Perspektif lain memandang subjective well-being lebih berkaitan dengan kecenderungan seseorang mengevaluasi dan menginterpretasikan pengalamannya secara positif. Menilik dari perspektif ini, seseorang dapat memiliki subjective well-being karena melihat situasi yang dihadapinya dalam hidup secara positif. Pendekatan yang menjelaskan subjective well-being ini disebut sebagai top down theory. Dalam pendekatan ini, pengukuran subjective well-being lebih dikaitkan dengan sifat kepribadian, sikap, dan cara seseorang menginterpretasi pengalaman dalam hidup.

                Apabila melihat dari perspektif bottom up, usaha untuk meningkatkan subjective well-being seharusnya berfokus untuk mengubah lingkungan dan situasi yang dialami seseorang. Misalnya dengan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, hidup di lingkungan yang lebih aman, dan lain sebagainya. Sedangkan apabila melihat dari perspektif top down, usaha untuk meningkatkan kebahagiaan seharusnya berfokus pada bagaimana mengubah perspektif seseorang, keyakinan mereka, atau sifat kepribadiannya.

 Memprediksikan Subjective Well-being

                Subjective well-being dapat diprediksikan dengan melihat beberapa variabel yang berkaitan dengan kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan. Variabel-variabel tersebut adalah self esteem yang positif, memiliki kontrol pribadi (personal control), derajat ekstroversi, optimisme, hubungan sosial yang positif, serta makna dan tujuan dalam hidup (Diener et al, dikutip oleh Compton, 2005).

                Self esteem yang positif merupakan variabel yang terpenting dalam subjective well-being karena evaluasi terhadap diri akan mempengaruhi bagaimana seseorang menilai kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Seseorang yang memiliki self esteem rendah cenderung tidak akan merasa puas dengan hidupnya dan tidak akan merasa bahagia. Self esteem yang positif berasosiasi dengan fungsi adaptif dalam setiap aspek kehidupan.

                Memiliki kontrol pribadi mengacu pada keyakinan seseorang bahwa ia memiliki kontrol terhadap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam hidupnya. Ditambahkan oleh Peterson (dikutip dari Compton, 2005), kontrol pribadi merupakan keyakinan individu bahwa ia dapat memaksimalkan hasil yang bagus dan atau meminimalkan hasil yang jelek. Dengan keyakinan ini maka seseorang dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, memilih hasil yang diinginkan, menghadapi konsekuensi dari pilihannya, dan memahami serta menginterpretasikan hasil dari pilihannya. Jadi kontrol pribadi dapat membantu seseorang untuk mewujudkan apa yang diinginkannya, yang kemudian dapat membawa kepuasan akan hidupnya.

                Orang yang memiliki derajat ekstroversi tinggi adalah orang yang tertarik dengan hal-hal di luar dirinya, seperti lingkungan fisik dan sosial. Seseorang yang extrovert diprediksikan akan mempunyai subjective well-being, karena ia lebih mampu bersosialisasi dibanding orang yang introvert. Penelitian menunjukkan banyaknya sahabat yang dimiliki akan berkaitan dengan well being. Hal ini terjadi karena dengan semakin banyaknya relasi yang dimiliki, maka semakin besar kesempatannya untuk menjalin relasi yang positif dengan orang lain dan semakin besar kesempatannya untuk mendapatkan umpan balik yang positif dari orang lain.

                Secara umum, orang yang lebih optimis tentang masa depannya akan lebih bahagia dan lebih puas dengan hidupnya. Konsep optimistik sendiri dapat dilihat dengan beberapa cara. Pertama, dispositional optimism, yaitu keyakinan bahwa semua akan berjalan baik di masa yang akan datang. Kedua, harapan (hope), yaitu keyakinan bahwa tindakan seseorang dan ketekunannya akan memungkinkan tercapainya tujuan yang diinginkan. Ketiga, explanatory style, yaitu cara seseorang menjelaskan penyebab kejadian-kejadian untuk dirinya sendiri. Orang optimis akan menjelaskan peristiwa kegagalan sebagai sesuatu yang bersifat sementara, dan peristiwa keberhasilan sebagai hasil dari kemampuannya sendiri.

Hubungan yang positif dengan orang lain berkaitan dengan subjective well-being, karena dengan adanya hubungan positif tersebut akan mendapat dukungan sosial dan kedekatan emosional. Pada dasarnya kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain merupakan suatu kebutuhan bawaan.

Tanpa adanya dukungan sosial dan keintiman emosional dengan orang lain, manusia akan merasakan keterasingan yang berdampak pada kesepian dan depresi. Hubungan yang positif dengan orang lain juga akan meningkatkan dampak variabel-variabel lain terhadap subjective well-being.

                Memiliki makna dan tujuan dalam hidup merupakan prediksi penting dari subjective well-being. Dalam penelitian subjective well-being, variabel ini sering diukur sebagai religiusitas. Religiusitas akan berpengaruh terhadap subjective well-being karena memberikan makna dan arah dalam kehidupan seseorang. Dengan adanya makna dan arah dalam hidup akan menimbulkan kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan.

Apabila memerlukan daftar pustaka dapat mengirimkan email ke vishakadharma@yahoo.com

Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar Psikologi, silakan Anda tuliskan dan kami akan mencoba membantu Anda🙂

Keberakaran Dalam Tradisi Mudik

Akhir-akhir ini kita sering mendengar pertanyaan “Mudik nggak tahun ini ?”, “Mau mudik kemana ?”, atau “Kapan mudik ?” . Hari raya Lebaran sebentar lagi akan tiba dan mudik adalah suatu fenomena yang menyertainya. Di Indonesia mudik identik sebagai tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya keagamaan, terutama Lebaran. Semakin mendekati Lebaran, orang semakin sibuk menyiapkan diri untuk mudik.

Mudik merupakan suatu fenomena yang terjadi setahun sekali. Apabila ditinjau dari pengertiannya mudik adalah kegiatan penduduk perkotaan untuk kembali ke daerah tempat kelahirannya. Meskipun demikian istilah mudik akan jarang digunakan apabila kegiatan penduduk perkotaan untuk kembali ke daerah tempat kelahirannya tersebut tidak dilakukan menjelang hari raya keagamaan, terutama Lebaran. Biasanya orang akan mengatakannya sebagai pulang kampung atau balik ke……(sesuai nama daerah atau kota asalnya).

Bagi sebagian besar masyarakat, mudik merupakan tradisi yang harus dilaksanakan. Sebenarnya sangat mengherankan melihat orang rela berdesak-desakan mengantri di stasiun atau terminal hanya untuk mendapatkan tiket. Bahkan mereka juga rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli tiket yang harganya membumbung tinggi. Segala daya upaya akan mereka lakukan asalkan dapat mudik. Ketika tidak mendapatkan tiket atau tidak mempunyai uang yang cukup, mereka akan mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil. Meskipun harus menghadapi kemacetan lalu lintas dan mengalami kepenatan berkendara selama berjam-jam bahkan berhari-hari, namun hal tersebut tidak mengurangi semangat mereka. 

Sebagai tradisi yang sudah melekat, mudik tidak hanya dilaksanakan oleh umat muslim tetapi juga non muslim. Entah sekedar memanfaatkan momentum cuti bersama atau ingin bertoleransi dengan umat muslim, tetapi umat non muslim pun rela mengalami “penderitaan” yang sama dengan umat muslim dalam mengantri tiket dan menghadapi kemacetan lalu lintas. “Penderitaan” yang dialami justru sering dianggap sebagai seni dalam mudik.

Kembali ke daerah tempat kelahiran pada saat Lebaran, memberi kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan. Di hari Lebaran orang akan bertemu saudara, kerabat, teman, dan tetangga yang lama tidak dijumpainya.  Mereka akan saling memberikan ucapan selamat hari raya dan meminta maaf satu sama lain. Biasanya beberapa hari setelah hari Lebaran akan dilaksanakan acara halal bihalal atau reuni sekolah.

Selain itu, mudik juga menjadi sarana untuk berkunjung atau sowan pada orang tua. Meminta maaf atau sungkem kepada orang tua merupakan suatu keharusan di hari Lebaran. Setelah itu biasanya akan dilanjutkan dengan sungkem pada  saudara-saudara yang lebih tua atau sesepuh dalam keluarga. Meskipun saudara yang lebih tua atau sesepuh dalam keluarga tersebut non muslim, tetapi sungkem tetap dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi. Hal ini terutama banyak dilakukan di lingkup masyarakat Jawa.

 Pada dasarnya esensi dari mudik adalah dapat bertemu dan berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara saat Lebaran. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut membawa kebahagiaan dan kepuasan tersendiri di hati setiap orang. Oleh karena itu bagaimana pun beratnya “penderitaan” dan kesulitan yang harus dihadapi tidak akan mengubah niat mereka untuk terus melaksanakan tradisi mudik sebagai suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan setiap tahun.  

Ditinjau dari segi psikologi, fenomena mudik dapat dijelaskan dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Erich Fromm (1900-1980). Erich Fromm merupakan tokoh psikoanalisa yang melihat keberadaan manusia berkaitan dengan manusia lainnya atau manusia sebagai makhluk sosial. Menurutnya manusia mempunyai lima kebutuhan, yaitu relatedness, creativity, rootedness, a sense of identity, dan a frame of orientation.  

Rootedness atau keberakaran adalah kebutuhan untuk merasa nyaman di dunia. Manusia diibaratkan seperti pohon yang memiliki “akar”.  Ia perlu merasakan dunia ini sebagai tempat tinggal yang nyaman, seperti halnya rumah yang selama ini ditinggali. Layaknya akar bagi pohon, rumah bagi manusia merupakan fondasi dan sumber untuk memperoleh cinta kasih. Sumber cinta kasih yang pertama dan utama bagi manusia adalah dari orang tua, terutama ibu.

Manusia akan selalu berusaha untuk memelihara kelekatan dengan ibu. Namun seiring dengan pertambahan usia manusia perlu berkembang. Hal ini berarti manusia harus siap untuk meninggalkan kehangatan cinta yang diberikan ibu. Ia harus keluar dari rumah dan berani berpisah dengan ibu. Keadaan ini akan dihadapi ketika manusia memasuki tugas perkembangan untuk bersekolah, kemudian bekerja, dan akhirnya menikah. Menurut Fromm apabila manusia tidak berani mengambil resiko untuk melakukan hal tersebut maka akan terjadi suatu incest secara psikologis.  

Meninggalkan rumah dan kehangatan cinta yang diberikan ibu, membuat manusia harus menghadapi berbagai tantangan dunia. Guna mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi, manusia perlu menemukan akar baru yang lebih luas. Ia perlu menemukan perasaan kebersaudaraan dengan manusia lainnya. Hal ini diawali dengan menjalin suatu pertemanan atau relasi yang hangat dan akrab dengan orang lain. Ketika hubungan tersebut terbentuk maka manusia akan mendapatkan sumber cinta kasih yang baru, sehingga ia mempunyai dukungan untuk menghadapi berbagai tantangan dunia. Keadaan ini akan membentuk manusia berkembang menjadi pribadi yang untuh dan memiliki kepercayaan pada orang lain.

Mudik merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan akan keberakaran. Tidak mengherankan apabila mudik akhirnya menjadi suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, baik yang muslim maupun non muslim, pada saat Lebaran. Melalui mudik orang dapat kembali ke rumah dan merasakan kehangatan cinta kasih dari ibu. Melalui mudik orang juga dapat memelihara kebersaudaraan dengan saudara, kerabat, teman, dan tetangga yang sudah lama tidak bertemu. Mudik membuat orang menemukan kembali akar cinta kasih, sehingga ia akan siap dalam menghadapi berbagai tantangan dunia yang akan datang.

          Ehmmm…..belanja ? suatu aktivitas yang menyenangkan bagi semua orang. Tidak terbatas pada kaum perempuan, tetapi juga pada kaum laki-laki. Umumnya orang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Paling tidak sebulan sekali orang akan meluangkan waktunya untuk berbelanja bulanan. Meskipun demikian, sering juga orang berbelanja hanya untuk memenuhi hasrat atau dorongan dari dalam dirinya. Banyak sekali orang yang berbelanja tanpa disertai oleh pertimbangan masak. Mereka membeli barang-barang yang “menggoda mata”, yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

            Hasrat untuk berbelanja akan semakin besar ketika melihat barang-barang yang didiskon. Menjelang Natal dan Tahun Baru, banyak mall atau department store yang menawarkan diskon. Tulisan sale terpajang besar-besar disertai angka diskon yang ditawarkan. Begitu masuk, pandangan konsumen akan langsung tertuju pada tulisan tersebut. Kemudian muncullan gairah dalam dirinya untuk mendatangi counter-counter yang berstempel diskon. Mereka tidak peduli lagi ketika harus berdesak-desakan dan berebut memilih barang-barang yang didiskon dalam rak. Akibatnya pengeluaran akan membengkak dari yang diperkirakan semula.

Apakah Belanja Impulsif ?

         Gaya belanja spontan, tanpa perencaan, merupakan pemicu timbulnya belanja impulsif. Apabila tidak dikontrol, belanja impulsif dapat menjadi habit atau kebiasaan yang tidak sehat. Belanja impulsif sendiri dapat dijelaskan sebagai belanja tanpa perencanaan, diwarnai oleh dorongan kuat untuk membeli yang muncul secara tiba-tiba dan seringkali sulit untuk ditahan. Hal ini diiringi oleh perasaan menyenangkan serta penuh gairah.

         Dengan perkataan lain, belanja impulsif adalah perilaku yang tidak dilakukan secara sengaja, dan kemungkinan besar melibatkan pula berbagai macam motif yang tidak disadari, disertai oleh perasaan menyenangkan serta penuh gairah. Dua karakteristik dari belanja impulsif, yaitu tidak direncanakan dan adanya hasrat serta gairah yang mengiringi, membedakannya dari jenis perilaku belanja “tanpa pikir” lainnya. Belanja impulsif akan berbeda dengan belanja karena kebiasaan atau belanja karena terdesak oleh keterbatasan waktu.

         Belanja impulsif dianggap sebagai perilaku belanja yang “irasional”, karena meskipun telah menyadari sebelumnya akan adanya kemungkinan merasakan penyesalan di kemudian hari tetapi orang tetap melakukan pembelanjaan. Oleh karena itu, perilaku belanja impulsif diasosiasikan dengan kecenderungan untuk mengabaikan dampak-dampak buruk yang mungkin terjadi dan yang dapat mengakibatkan penyesalan, misalnya berkaitan dengan uang yang sudah terlanjur dibelanjakan atau kualitas produk yang dibeli.

         Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya belanja impulsif, yaitu : psikologis, sosial, dan biologis. Faktor psikologis yang melatarbelakangi adalah adanya keinginan untuk meningkatkan self image dan mood. Barang atau materi seringkali dianggap sebagai simbol status. Memiliki barang “mewah” atau barang yang diinginkan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Orang yang melakukan belanja impulsif seringkali pulang dengan membawa pakaian, sepatu, make up, perhiasan, dan benda lainnya yang dapat meningkatkan penampilan.

         Faktor sosial yang melatarbelakangi adalah adanya pengaruh lingkungan. Lingkungan tempat tinggal atau bersosialisasi tentu membawa pengaruh pada munculnya kecenderungan belanja impulsif. Tinggal di kota besar, seperti Jakarta, tentu berbeda dengan tinggal di kota-kota kecil. Di kota besar banyak ditawarkan berbagai hal yang menarik, termasuk barang-barang yang menarik. Hal tersebut tentu semakin memudahkan dalam memuaskan hasrat berbelanja. Begitu juga ketika bergaul dengan orang-orang yang gemar berbelanja. Akan semakin banyak waktu yang diluangkan untuk berbelanja bersama di mall, department store atau pusat perbelanjaan lainnya.

         Faktor biologis berkaitan dengan elemen-elemen di pusat perbelanjaan yang merangsang panca indera. Pusat perbelanjaan memang dirancang sedemikian rupa sehingga menimbulkan pengalaman berbelanja yang menyenangkan. Ketika melewati atau memasuki pusat perbelanjaan panca indera akan segera terangsang atau terstimulasi dengan barang-barang yang dipajang di etalase toko atau di tempat-tempat menarik lainnya. Situasi dalam pusat perbelanjaan akan membangkitkan mood yang positif, sehingga menarik perhatian serta minat ke arah produk-produk tertentu. Maka semakin besarlah gairah untuk berbelanja, meskipun tanpa ada perencanaan sebelumnya.

Jenis Pembelanja Impulsif

         Terdapat empat jenis pembelanja impulsif. Pertama adalah tipe kompensatif. Orang yang termasuk dalam tipe ini biasanya berbelanja tanpa pikir panjang hanya karena ingin meningkatkan harga dirinya. Bagi mereka berbelanja merupakan sarana untuk melarikan diri dari berbagai masalah yang dihadapi, seperti masalah pekerjaan, rumah tangga, atau keluarga. Seringkali barang-barang yang dibeli tidak dibutuhkan, sehingga tidak dipakai dan masih tersimpan rapi dalam lemari.

         Kedua adalah tipe akseleratif. Orang yang termasuk dalam tipe ini seringkali tergoda untuk berbelanja pada saat banyak ditawarkan sale di pusat-pusat perbelanjaan. Mereka akan membeli barang-barang tersebut, meskipun tidak membutuhkannya saat membeli. Bagi mereka barang-barang yang dibeli secara murah tersebut dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan di masa depan.

         Ketiga adalah tipe terobosan. Orang yang termasuk dalam tipe ini akan membeli barang-barang mahal tanpa ada perencanaan yang matang. Ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dan melihat ada pameran mobil atau rumah, mereka akan pulang dengan menandatangi kontrak pembelian rumah atau mobil baru tersebut. Bagi mereka membeli barang-barang mahal tersebut menjadi lambang dimulainya babak baru dalam kehidupannya, meskipun sebenarnya hasrat untuk membelinya sudah lama ada.

         Keempat adalah tipe pembeli buta.  Orang yang termasuk dalam tipe ini akan membeli barang tanpa ada pertimbangan sama sekali. Sangat sulit sekali memahami apa yang melatarbelakangi mereka untuk melakukan pembelanjaan seperti itu.

Dampak Belanja Impulsif

            Kebiasaan berbelanja impulsif dapat menyebabkan timbulnya rasa bersalah. Perasaan ini akan timbul begitu mereka sampai di rumah dan melihat barang-barang yang telah dibelinya atau ketika mereka memeriksa lemari dan menyadari banyak baju, sepatu, tas, dan barang lainnya yang tidak pernah dipakai. Meskipun demikian, mereka akan membuang jauh perasaan tersebut dengan mencoba mencari alasan rasional yang melatarbelakangi pembelanjaan yang dilakukannya. Ketika berada dalam situasi yang mendorong untuk berbelanja secara impulsif lagi, terjadi pertentangan internal dalam diri mereka. Pertentangan tersebut terjadi antara “keharusan” (ought to be) dan “hasrat” (desire). Di satu sisi mereka menyadari untuk berbelanja barang-barang yang dibutuhkan saja, tetapi disisi lain ada dorongan yang kuat dalam diri mereka untuk berbelanja tanpa memperdulikan butuh atau tidak.

            Berbelanja secara impulsif tentu juga akan menimbulkan masalah keuangan. Membeli suatu barang tanpa perencaan akan mengakibatkan membengkaknya anggaran atau pengeluaran yang telah direncanakan. Apabila memiliki simpanan uang yang berlebih tentu tidak akan menjadi masalah, tetapi bagaimana jika tidak ? Bagaimana jika tagihan kartu kredit membengkak sehingga tidak sanggup lagi membayarnya ?. Oleh karena itu perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam kebiasaan berbelanja secara impulsif. Meskipun berbelanja merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan, jangan sampai terlena dalam kenikmatannya.

When I was young, I never needed anyone, And making love was just for fun, Those days are gone, Livin’ alone, I think of all the friends I’ve known, When I dial the telephone, Nobody’s home. All by myself, Don’t wanna be, All by myself, Anymore. Hard to be sure, Sometimes I feel so insecure, And loves so distant and obscure, Remains the cure……….” Sepenggal lirik lagu yang menggambarkan kisah seorang pria bernama Bambang (bukan nama sebenarnya).

Bambang berusia 50  tahun. Ia dapat digolongkan sebagai orang yang sukses. Ia berhasil dalam pekerjaannya, dengan karier yang terus menanjak. Penghasilan yang diperolehnya pun lebih dari cukup. Namun, kesuksesannya tersebut tidak diiringi dengan kesuksesan dalam kehidupan pribadinya. Bambang sering merasa kesepian. Di usianya sekarang, ia masih hidup melajang. Ia sangat iri melihat teman-teman sebayanya yang telah menikah dan mempunyai anak.

Secara fisik, tidak ada satu pun kekurangan dalam diri Bambang. Ia memiliki wajah yang tampan dan penampilan yang menawan. Maka tidak ada alasan baginya untuk tidak disukai lawan jenis. Ketika masih muda, ia mempunyai banyak teman dekat perempuan. Ia pandai membuat perempuan jatuh hati padanya. Jika Bambang ingin mempunyai kekasih, boleh dikatakan ia hanya tinggal memilih. Sayangnya hal tersebut tidak pernah dilakukannya.

Bambang tidak pernah mempunyai keinginan untuk menjalin komitmen. Hubungannya dengan perempuan-perempuan tersebut hanya dibiarkan mengambang, tanpa adanya kejelasan status. Bambang sangat menikmati kehidupannya tersebut. Ia bebas berkencan dengan siapa saja. Jika sedang mempunyai masalah dengan salah seorang teman dekat perempuannya, maka ia dapat beralih ke yang lainnya. Namun, hal tersebut tidak dapat terus-menerus dinikmatinya. Hubungan yang tidak jelas dan hanya menguntungkan bagi Bambang tersebut, membuat satu per satu teman perempuannya meninggalkannya. Kini tidak ada seorang pun ada di sampingnya.

Kasus Bambang merupakan gambaran satu dari sekian banyak laki-laki. Apa yang dialami oleh Bambang dapat dijelaskan menggunakan teori kepribadian yang dikemukakan oleh Alfred Adler. Menurut Adler, manusia dimotivasi oleh satu dorongan utama, yaitu dorongan untuk menanggulangi perasaan inferiority menjadi superiority. Inferiority merupakan perasaan tidak berdaya dan tidak mampu untuk melakukan “tugas” yang perlu diselesaikan. Dengan mencapai superiority berarti seseorang secara terus-menerus berusaha untuk menjadi lebih baik.

Sebenarnya hal yang wajar apabila setiap orang memiliki perasaan inferior dan superior. Namun, menjadi tidak wajar apabila perasaan yang dimilikinya tersebut berlebihan dan menjurus pada suatu inferiority atau superiority complex. Kedua komplek tersebut saling berhubungan erat. Superiority complex selalu menutupi peraaan inferior, dan inferiority complex selalu menyembunyikan perasaan superior. Beberapa kondisi seperti dimanjakan dan ditolak dapat membuat orang membentuk inferiority atau superiority complex.

Di masa remajanya, Bambang pernah mengalami kegagalan dalam kehidupan percintaannya. Bambang pernah memiliki seorang pacar, tetapi hubungan itu harus berakhir karena ia diputus oleh pacarnya tersebut. Penyebabnya adalah adanya perempuan lain yang berusaha mendekati Bambang. Meskipun tidak menyukainya, tetapi Bambang tidak bisa menunjukkan sikap yang tegas terhadap perempuan tersebut. Merasa dirinya setia dan tidak melakukan kesalahan apa pun, maka Bambang tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia pun merasa di-reject atau ditolak, terlebih lagi ini merupakan pengalaman cinta pertamanya.

Bambang sendiri sebenarnya telah mempunyai gambaran ideal mengenai hubungan yang akan dijalinnya dengan lawan jenis. Ia belajar melalui orang tuanya. Ketika kecil, kehidupan pernikahan orang tuanya tidak harmonis. Pekerjaan ayahnya di bidang entertainment membuatnya sering berhubungan dengan perempuan-perempuan cantik. Ia menjadi sering terlibat affair. Keadaan ini memicu pertengkaran antara ayah dan ibu Bambang. Puncaknya adalah ketika ibu Bambang harus dirawat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri dengan menegak baygon. Kejadian ini terjadi saat Bambang berusia sekitar enam tahun. Hal ini begitu membekas pada diri Bambang,

Melihat penderitaan ibunya membuat Bambang tidak ingin menyakiti perasaan perempuan. Ia tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Maka dalam membina hubungan dengan lawan jenis, ia ingin menjadi seorang laki-laki yang setia. Namun, peristiwa diputus pacarnya tersebut membuat hancur gambaran ideal Bambang tentang dirinya dan hubungan yang ingin dijalinnya. Meskipun setia, tetapi pacarnya tidak menganggap kalau dirinya setia. Bambang sendiri masih sangat mencintai pacarnya tersebut.

Pada saat itu muncullah perasaan inferior dalam dirinya, yang menjurus ke arah kompleks. Ia terpuruk dan kehidupannya menjadi kacau balau. Ia bahkan terjerumus dalam pemakaian drugs. Namun, kemudian Bambang sadar bahwa hal ini justru akan memperburuk citranya. Ia akan semakin dijauhi, sehingga perasaan inferiornya akan semakin bertambah. Akhirnya secara tidak sadar Bambang mengembangkan superiotiy complex untuk mengatasi atau mengkompensasikan perasaan inferiority complex-nya. Dengan pesonanya ia mendekati banyak perempuan. Ketika perempuan-perempuan tersebut mulai menyukainya dan menyatakan perasaan padanya, ia selalu berusaha menghindari adanya komitmen. Ia hanya ingin menunjukkan dan membuktikan pada dirinya sendiri dan orang lain bahwa banyak perempuan yang menyukainya dan menginginkannya menjadi pasangannya.

Meskipun banyak perempuan di sekelilingnya, tetapi Bambang sendiri tidak pernah yakin akan perasaannya. Ia tidak tahu lagi apakah cinta itu. Selama ini, yang dikejarnya hanya lah kepuasan diri. Semakin banyak perempuan yang menyukainya, maka semakin besar pula egonya. Sayangnya, Bambang tidak menyadari bahwa itu adalah sia-sia belaka. Dalam dirinya ia hanya menemukan rasa sepi dan kehampaan. Ia menyikapi kegagalan hubungan percintaannya dengan cara yang salah. Sekarang ia hanya bisa menyesali masa lalunya. Sungguh merupakan balada seorang pria dengan superiority complex.

Tulisan untuk harian Suara Pembaruan

Bahagia merupakan kata yang sering kita dengar atau ucapkan. Ketika menghadiri resepsi pernikahan, para tamu undangan akan memberikan ucapan selamat dan mendoakan agar pasangan pengantin tersebut berbahagia. Ucapan serupa juga akan diberikan pada teman atau kerabat yang sedang menyambut kelahiran anaknya. Banyak moment atau peristiwa penting dalam kehidupan manusia yang lazim diiringi dengan harapan atau doa akan datangnya kebahagiaan.

Saat sedang menikah atau menyambut kelahiran anak, kita akan melihat adanya raut wajah yang berseri-seri dan senyum tiada henti pada pasangan pengantin dan pada pasangan orang tua baru. Namun, belum tentu pancaran kebahagiaan tersebut akan kita lihat lagi di masa-masa yang akan datang. Banyak permasalahan hidup yang menghampiri, seperti perselingkuhan, kesulitan ekonomi, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Ketika hal tersebut terjadi kita akan melihat raut wajah yang muram dan berkerut-kerut. Mereka akan menghabiskan waktunya dengan termenung sambil bertopang dagu atau justru menangis tersedu-sedu.

Hidup memang sering diibaratkan seperti roda yang berputar. Kadang kita berada di atas, tetapi kadang kita juga berada di bawah. Apabila melihat filosofi tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita hanya fana atau bersifat sementara. Begitu juga dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang dirasakan hanya bersifat sementara dan tidak lah abadi. Jika hari ini kita merasa bahagia, maka belum tentu esok hari kita akan tetap merasakan hal yang sama.

 Kebahagiaan sendiri merupakan tujuan hidup dari setiap manusia. Menyadari kebahagiaan hanya bersifat sementara dan tidak abadi, maka mereka berlomba-lomba untuk meraih kebahagiaan tersebut. Cara yang digunakan untuk meraih kebahagiaan akan tergantung pada pemaknaan mereka terhadap kebahagiaan itu sendiri. Seringkali orang memaknai kebahagiaan dengan dimilikinya harta yang banyak, kekuasaan yang luas, atau status yang tinggi. Mempunyai harta yang banyak akan membuat hidup berkecukupan, sehingga tidak ada lagi yang perlu dipusingkan. Mempunyai kekuasaan yang luas akan membuat mereka dapat mengendalikan atau mengatur orang lain, sehingga segala keinginannya dapat terpenuhi. Begitu juga ketika mereka mempunyai status yang tinggi. Mereka akan disegani, sehingga akan terus dihormati.

 Kenyataannya, meskipun harta, kekuasaan atau status sudah dimiliki tetapi belum tentu mereka akan terus merasa bahagia. Sebaliknya, banyak orang yang tidak memiliki harta, kekuasaan, atau status tetapi mereka tetap dapat merasa bahagia. Oleh karena itu pada akhirnya orang akan mempertanyakan apakah arti kebahagiaan yang sebenarnya. Bahagia sendiri merupakan bagian dari emosi yang dimiliki oleh setiap manusia. Kebahagiaan adalah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Jadi kebahagiaan berbeda dengan kegembiraan, dan kebahagiaan merupakan suatu perasaan yang melebihi perasaan kegembiraan. Kebahagiaan mempunyai ruang lingkup yang lebih luas, seperti kesenangan hidup, sedangkan kegembiraan mempunyai ruang lingkup yang lebih sempit, seperti kejadian atau pencapaian khusus.

 Ketika melihat orang lain bahagia, seringkali akan timbul rasa iri dalam diri kita. Kemudian kita akan mencoba mencari tahu kunci kebahagiaan dari orang tersebut agar dapat menerapkannya juga. Jika beruntung terkadang kita berhasil mencontohnya, tetapi tak jarang juga kita gagal melakukannya. Apabila ditinjau lebih jauh, sebagai sebuah perasaan kebahagiaan merupakan suatu hal yang bersifat subyektif. Kebahagiaan bukan lah sesuatu hal yang mudah ditularkan kepada orang lain.

 Sebenarnya ketika kita menyangka orang lain bahagia, belum tentu orang tersebut benar-benar merasa bahagia. Sebaliknya, ketika kita menyangka orang lain tidak bahagia belum tentu orang tersebut tidak merasa bahagia. Sulit untuk menilai atau mengukur kebahagiaan, karena tidak ada patokan yang pasti. Oleh karena itu tidak mudah pula menilai kebahagiaan orang lain hanya dari luar atau yang tampak. Hanya orang itu sendiri lah yang dapat mengetahui secara persis apakah ia merasa bahagia atau tidak.

 Selain mempertanyakan arti kebahagiaan, orang juga sering mempertanyakan kapankah ia akan bahagia. Seringkali orang mengkaitkan kebahagiaan dengan kejadian atau peristiwa yang datang dari luar dirinya. Misalnya saja orang yang menganggap bahwa dirinya  akan bahagia ketika ada orang yang selalu mencintainya. Kebahagiaan disini dilihat sebagai bagian dari nasib yang ada di luar kontrol manusia. Jika beruntung, maka akan selalu ada yang mencintainya sehingga ia akan terus merasa bahagia.

 Apabila kebahagiaan dianggap berada di luar kontrol manusia, maka sulit untuk memprediksikan kapan datangnya kebahagiaan tersebut. Kebahagiaan akan datang kapan saja di saat yang tak terduga. Kebahagiaan juga dapat pergi kapan saja. Tidak seorang pun yang dapat memprediksikan sampai kapan kebahagiaan yang dirasakan akan berlangsung. Jika terjadi musibah dalam hidup, seperti kehilangan orang yang dicintai secara mendadak, mengalami cacat tubuh karena kecelakaan, kehilangan pekerjaan, dan lain sebagainya, maka otomatis orang tidak akan lagi merasa bahagia. Pada situasi ini akhirnya ia hanya bisa pasrah pada nasib. Maka tidak salah apabila akhirnya banyak orang menganggap kebahagiaan sebagai sesuatu yang fana.

 Namun, apakah benar bahwa kebahagiaan itu tidak abadi ?. Sebagai sesuatu yang subyektif sebenarnya kebahagiaan dapat terus dirasakan oleh setiap orang. Permasalahannya terletak pada bagaimana kita memaknai setiap peristiwa atau kejadian dalam hidup kita. Dengan memberi makna berarti kita memberi arti pada setiap peristiwa atau kejadian dalam hidup kita, sehingga semuanya tidak lewat atau berlalu begitu saja. Agar dapat merasakan suatu kebahagiaan, tentu pemaknaan yang harus kita berikan adalah pemaknaan yang positif.

Victor Frankl (1905 – 1997) merupakan salah seorang tokoh psikologi yang menjelaskan pentingnya manusia mencari makna hidupnya. Disini manusia diharapkan dapat bersikap aktif. Ia tidak hanya pasrah menunggu perasaannya dipengaruhi oleh peristiwa atau kejadian yang dialaminya. Ia mempunyai kehendak atau kebebasan untuk menemukan makna hidupnya sendiri. Apa pun situasi dalam hidup kita, semuanya bermakna. Bahkan ketika manusia mengalami suatu peristiwa yang tidak menyenangkan, ia tetap dapat mencari makna hidupnya. Menurut Frankl, penderitaan dapat mendorong manusia untuk bertumbuh.

Selama ini umumnya ketika mengalami suatu penderitaan, orang akan terpuruk. Mereka menjadi tidak berdaya dan putus asa, sehingga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Padahal meskipun dalam keadaan yang menekan dan tidak dapat dikontrol, manusia tetap dapat mengontrol dirinya. Ia dapat menentukan sikap atas keadaan yang dialaminya. Di dalam film Life is Beautiful atau Persuit of Happiness dapat dilihat bagaimana orang yang mengalami penderitaan memberikan makna yang menyenangkan pada situasi yang dialaminya. Hal ini tentu akan membantu melewati masa-masa yang sulit.

Selain itu, orang juga perlu untuk mencari kebermaknaan dirinya di tengah-tengah situasi yang menekan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Seringkali penderitaan membuat orang menempatkan dirinya sebagai orang yang paling malang dan memerlukan pertolongan. Jika seseorang menempatkan diri dalam posisi tersebut maka niscaya ia akan sulit beranjak meninggalkan keterpurukannya tersebut. Bahkan bisa jadi semakin lama ia akan semakin merasa menderita. Jika hal itu terjadi maka ia tidak akan mampu lagi melihat celah kehidupan yang lebih baik, sehingga jalan pintas seperti bunuh diri pun dapat diambil.

Membantu orang lain membuat diri kita merasa berharga. Terlebih lagi ketika dilakukan pada saat kita sendiri berada dalam situasi menekan. Hal ini tentu akan membuat kita menemukan kepuasan dalam hidup. Secara tidak langsung tentu akan menumbuhkan semangat bagi kita untuk melewati masa-masa sulit, serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Dengan menemukan makna hidup kita telah menemukan kebahagiaan di tengah penderitaan. Sehingga dapat dikatakan apa pun situasi atau keadaan yang kita alami, kita tetap dapat terus merasa bahagia. Semua itu kembali kepada diri kita sendiri, apakah kita mau menemukan makna hidup kita dan menjadi bahagia atau kah tidak. Pada dasarnya kita sendiri lah yang berperan menentukan keberlangsungan hidup kita di masa yang akan datang, sehingga tidak perlu lagi kita termenung dan mempertanyakan akankan ada kebahagiaan untuk selamanya ?.

Email :

vishakadharma@yahoo.com

Telepon :

(021) 28882943 (Office Hours)

Biaya

INDUSTRI & ORGANISASI  

 

JENIS LAYANAN KETERANGAN TARIF
Seleksi & Penempatan
Level Karyawan – Managerial Kegiatan meliputi :

–       Psikotes

–       Wawancara/FGD

*Kegiatan yang dilaksanakan akan disesuaikan dengan kebutuhan & level jabatan yang dituju

Rp 250.000,- – Rp 1.000.000,-/ orang
Penelusuran Potensi & Pengembangan
Level Karyawan – Managerial Kegiatan meliputi :

–       Psikotes

–       Wawancara/FGD

–       Training

–       Konseling

*Kegiatan yang dilaksanakan akan disesuaikan dengan kebutuhan & level jabatan yang dituju

Rp 750.000,- – Rp 2.500.000,- /orang
Konseling Individual Kegiatan meliputi :

–       Konseling individual dengan durasi 1 jam

Rp 250.000,-/orang

 

 

PENDIDIKAN

 

JENIS LAYANAN KETERANGAN TARIF
Penjurusan 
Tingkat :

–       SMP

–       SMA

–       Perguruan Tinggi

Kegiatan meliputi :

–       Psikotes

–       Wawancara

*Kegiatan yang dilaksanakan akan disesuaikan dengan kebutuhan

Rp 200.000,- – Rp 350.000,-/orang
Penelusuran potensi
Tingkat :

–       TK

–       SD

–       SMP

–       SMA

–       Perguruan Tinggi

Kegiatan meliputi :

–       Tes Inteligensi

Rp 200.000,- – Rp 400.000,-/orang
Konseling
  Kegiatan meliputi :

Konseling individual dengan durasi 1 jam

Rp 175.000,-/orang

  

KLINIS

 

JENIS LAYANAN KETERANGAN TARIF
Gambaran Kepribadian  
  Kegiatan meliputi :

–       Psikotes

–       Wawancara

*Kegiatan yang dilaksanakan akan disesuaikan dengan kebutuhan

Rp 350.000,-  – Rp 750.000,- / orang
Konseling
  Kegiatan meliputi :

Konseling individual dengan durasi 1 jam

Rp 250.000,-/orang

Klinis

Jasa yang diberikan di bidang klinis adalah sebagai berikut :

GAMBARAN KEPRIBADIAN

Aspek kepribadian begitu berperan dalam menentukan perilaku individu di kesehariannya.  Kepribadian seseorang akan mempengaruhi penilaiannya terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Begitu juga dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dialami dalam kehidupannya

KONSELING

Individu yang merasa tidak nyaman dengan kondisi dirinya akan membuatnya merasa tidak tenang. Kehidupannya akan diwarnai dengan kegelisahan. Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupannya dan bahkan dapat berdampak terhadap orang-orang di sekitarnya. Ketidaknyamaan yang menggangu tersebut sebaiknya dicari sumber atau akar permasalahannya, yang biasanya tidak disadari oleh individu.